Pentingnya Menjaga Niat, Sekretaris LDII Kota Kediri: Jadilah Seperti Gula, Memberi Rasa Tanpa Perlu Terlihat
Kediri (8/5). Pentingnya menjaga keikhlasan hati dalam setiap amal ibadah menjadi sorotan utama dalam nasihat yang disampaikan oleh Sekretaris LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, usai pelaksanaan salat Jumat di Masjid Baitul A’la, Kediri, pada Jumat (8/5).
Di hadapan ribuan santri dan jamaah, pria yang akrab disapa Ari ini menekankan bahwa niat merupakan “mesin penggerak” utama bagi seorang mukmin. Tanpa niat yang lurus karena Allah, amalan sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di akhirat.
“Segala sesuatu memiliki penggerak. Kendaraan berjalan karena mesin, dan manusia beriman bergerak beribadah karena niat di hatinya. Sebesar apa pun amalan, jika tidak diniati karena Allah, maka akan sia-sia. Sebaliknya, sekecil apa pun amal yang ikhlas, Allah akan melipatgandakan pahalanya,” ujarnya.
Mengutip hadis Rasulullah SAW, ia mengingatkan bahwa hati adalah penentu kualitas seluruh tubuh dan amal. Ia memberikan peringatan mengenai bahaya riya’ atau beramal karena ingin dipuji manusia. Terlebih saat ini umat Islam berada di bulan Dzulhijjah, salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah, di mana amalan seperti puasa Arafah dan ibadah kurban memiliki nilai yang sangat besar.
“Tantangan terbesar adalah mencari pengakuan manusia. Pujian itu manis, namun bisa menjadi racun yang menghanguskan pahala. Jangan sampai kita termasuk golongan yang merugi—seperti ahli Al-Qur’an, ahli sedekah, dan ahli jihad—yang justru masuk neraka karena amalnya hanya untuk mengejar sebutan hebat dan dermawan,” tegasnya.

Dalam nasihatnya, ia menggunakan perumpamaan yang menyentuh tentang keikhlasan melalui filosofi gula dan akar pohon.
“Jadilah seperti gula. Ketika kopi terasa nikmat, orang memuji kopinya, bukan gulanya. Gula rela larut dan hilang demi memberi rasa manis. Begitulah keikhlasan; tidak butuh nama ditulis di depan atau wajah tampil di layar utama, cukup manfaatnya dirasakan dan Allah yang menjadi saksinya,” tuturnya.
Ia juga mengibaratkan orang yang menjaga niat seperti akar pohon. Meskipun tersembunyi di dalam tanah yang gelap, akarlah yang menentukan tegaknya batang dan manisnya buah. Jika akar (niat) itu busuk, maka seluruh amalan akan gugur.
Menutup nasihatnya, Humas Ponpes Wali Barokah ini mengingatkan bahwa niat bersifat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu—baik di awal, di tengah, maupun di akhir amal. Ia menceritakan kisah seorang santri yang memperlama salatnya karena merasa diperhatikan orang, padahal yang ada di belakangnya hanyalah seekor kambing.
“Tugas kita bukan menjadi sempurna sejak awal, melainkan terus-menerus memperbaharui niat. Sebelum beramal, saat beramal, hingga setelah beramal, tetap luruskan niat: Mukhlis lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah semata,” pungkasnya.
Nasihat ini diharapkan dapat memperkuat karakter para santri agar tetap istiqamah dalam iman dan menjaga kemurnian niat di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan godaan eksistensi diri.
