Kediri (30/8). Lebih dari 800 pemuda-pemudi menghadiri Pengajian Akbar Pemuda LDII Kediri di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Kota Kediri, pada Minggu (30/8). Kegiatan tersebut digelar guna membekali generasi muda dalam penguatan iman, ilmu, serta semangat berkontribusi dalam bermasyarakat.
Dalam pengajian tersebut, Ustaz Syamsul Huda menyampaikan materi mengenai pentingnya keimanan dan memahami ilmu agama bagi generasi saat ini. Menurutnya, pemuda memiliki posisi penting dalam keberlangsungan kehidupan beragama sehingga perlu memiliki pemahaman Islam yang kokoh dan mendasar.
“Sebagai generasi yang nanti akan meneruskan tongkat estafet, kita harus memiliki keimanan dan keilmuan yang kuat yang mendasar. Kefahaman agama tidak cukup hanya diketahui secara teori, tetapi harus menjadi dasar dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Ustaz Huda juga mengingatkan tentang keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Ia mengutip keterangan mengenai tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.
“Seorang pemuda yang memiliki kefahaman agama yang kuat akan mendapatkan keutamaan di sisi Allah. Pada hari kiamat nanti, ketika tidak ada naungan selain naungan Allah, ada pemuda yang mendapatkan naungan tersebut karena tumbuh dalam ketaatan kepada-Nya,” jelasnya.
Menurutnya, masa muda merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk memperkuat iman, meningkatkan kefahaman, dan memperbanyak ilmu. Karena itu, generasi muda perlu memanfaatkan usia dan kemampuannya untuk kegiatan yang memberikan manfaat bagi agama dan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Ustaz Eko Suwarko menyampaikan materi mengenai sejarah perjalanan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa LDII merupakan organisasi kemasyarakatan Islam yang berdiri secara resmi dan memiliki landasan hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ustaz Eko memaparkan, perjalanan organisasi tersebut bermula di Surabaya, Jawa Timur, pada 3 Januari 1972 dengan nama Yayasan Karyawan Islam (YAKARI). Dalam perkembangannya, nama tersebut kemudian berubah menjadi Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) melalui Musyawarah Besar pada 1981.
“Perjalanan LDII dimulai dari YAKARI yang berdiri di Surabaya pada 3 Januari 1972. Kemudian pada Musyawarah Besar tahun 1981, nama tersebut berubah menjadi Lembaga Karyawan Islam atau LEMKARI,” terangnya.
Ia melanjutkan, dalam Musyawarah Besar LEMKARI pada 1990, nama organisasi kembali disesuaikan menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Perubahan nama tersebut dilakukan setelah adanya arahan Menteri Dalam Negeri saat itu, Letjen (Purn.) Rudini, agar tidak terjadi kesamaan singkatan dengan Lembaga Karate-Do Indonesia yang juga dikenal dengan akronim LEMKARI.
“Pada 1990, nama LEMKARI kemudian disesuaikan menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia atau LDII. Perubahan tersebut salah satunya untuk menghindari kesamaan singkatan dengan Lembaga Karate-Do Indonesia,” pungkas Ustaz Eko.
