Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
May 30, 2026
Kesehatan Pendidikan

Menyusui : Ibadah yang Sering Terlupakan dalam Persiapan Persalinan

  • March 2, 2026
  • 2 min read
  • 43 Views
Menyusui : Ibadah yang Sering Terlupakan dalam Persiapan Persalinan

Oleh: dr. Lutfi Hardianto

Saat masa kehamilan tiba, calon orang tua biasanya terjebak dalam hiruk-pikuk persiapan fisik. Mulai dari memilih rumah sakit, menyiapkan nama bayi yang indah, berburu baju lucu, hingga sesi foto maternity. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlewat: Sudahkah kita mempersiapkan ilmu menyusui?

Padahal, bagi kita umat Muslim, menyusui bukan sekadar proses biologis, melainkan perintah langsung dari Allah SWT dalam Al-Baqarah ayat 233: “Dan para ibu hendaklah menyusui anak–anaknya selama 2 tahun yang sempurna.” Ini menegaskan bahwa setiap tetes ASI yang diberikan adalah ibadah yang bernilai pahala besar.

Investasi Melawan Stunting

Di tengah isu nasional mengenai stunting, menyusui adalah “Standar Emas”. Langkahnya sederhana namun berdampak jangka panjang: Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah lahir, ASI Eksklusif hingga 6 bulan tanpa tambahan air putih sekalipun, dilanjutkan MPASI yang tepat, dan tetap menyusu hingga usia 2 tahun.

ASI adalah superfood, bukan sekadar cairan. Ia penuh antibodi yang melindungi bayi dari infeksi, obesitas, hingga alergi. Bagi Ibu, menyusui mempercepat pemulihan rahim dan menjadi pelindung alami dari risiko kanker payudara serta ovarium.

Melawan Mitos Kolostrum

Seringkali di masyarakat kita muncul mitos bahwa ASI yang keluar di hari pertama (berwarna kuning dan kental) adalah “susu basi” atau racun. Ini keliru. Itulah Kolostrum, tetesan berharga yang kaya Vitamin A dan zat kekebalan. Jangan dibuang! Susukan langsung pada bayi, karena itulah “vaksin” pertama yang Tuhan sediakan.

Banyak pula ibu yang cemas ASI-nya kurang karena lambung bayi masih kecil. Sebagai gambaran, lambung bayi usia 1 hari hanya seukuran kelereng kecil (5-7 ml). Jadi, jangan terburu-buru memberikan susu formula (sufor). Ingatlah prinsip supply and demand: semakin sering disusui, suplai ASI akan semakin melimpah.

Risiko yang Sering Tersembunyi

Kita harus jujur melihat perbandingan antara ASI dan susu buatan (artifisial). Sementara ASI itu gratis, alami, dan mudah, susu formula adalah produk ultra-processed food yang rumit dan berbiaya. Penggunaan sufor yang tidak tepat pada bayi meningkatkan risiko asma, infeksi telinga, hingga obesitas dan penurunan IQ di masa depan.

Dukungan, Bukan Penghakiman

Menyusui adalah kerja tim. Ibu tidak bisa berjuang sendirian.

  • Keluarga harus hadir membantu pekerjaan rumah agar Ibu bisa istirahat.
  • Tempat kerja perlu menyediakan ruang laktasi yang layak.
  • Fasilitas kesehatan harus memberikan informasi yang empatik tanpa mempromosikan susu formula secara agresif.

Setiap perjalanan ibu menyusui memang berbeda-beda. Kita tidak perlu membandingkan, melainkan mendukung. Dengan menyusui, kita sedang berinvestasi untuk generasi penerus yang unggul, sehat, cerdas, dan berkualitas bagi bangsa dan agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *