Praktisi parenting dr. H. Heris Setiawan Kusumaningrat dalam acara Seminar Parenting Skill, di Ponpes Nurul Huda Al Manshurin.
Kediri (19/4). LDII Kota Kediri menggelar Seminar Parenting Skill yang bertajuk “Menumbuhkan Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pembinaan Anak untuk Mewujudkan 29 Karakter Luhur” di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Kota Kediri, pada Minggu (19/4).
Kegiatan ini menghadirkan praktisi parenting dr. H. Heris Setiawan Kusumaningrat dan diikuti ratusan generus (generasi penerus) kelas 8 SMP yang didampingi kedua orang tuanya dari Kota Kediri dan sekitarnya.
Dalam pemaparannya, dr. Heris menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan menghadapi karakter generasi Z yang memiliki pola berpikir cepat dan akses informasi luas.
“Anak gen Z itu mampu menampung data banyak, mengakses informasi dengan cepat, dan mengambil kesimpulan secara instan. Maka orang tua harus hadir memberikan arahan yang detail agar anak tidak terjebak pada informasi negatif di era globalisasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni nutrisi, situasi, dan emosi. Menurutnya, metode pembelajaran melalui pengulangan akan memperkuat koneksi otak sehingga anak menjadi “pintar”.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan keberadaan mirror neuron atau neuron cermin dalam otak anak.
“Ketika anak melihat orang tuanya rukun, saling menyayangi, dan bahagia, itu akan terekam kuat dalam pikiran dan perasaannya. Orang tua adalah ‘master’, dan anak adalah hasil fotocopynya,” jelasnya.

Dalam menjelaskan peran orang tua, dr. Heris mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Ia menjelaskan pembentukan karakter anak sangat ditentukan oleh pola asuh dan lingkungan keluarga.
“Ada lima hal yang perlu dihindari dalam mendidik anak, yaitu menghakimi, memberikan label negatif, membandingkan dengan orang lain, serta sikap-sikap yang dapat menurunkan rasa percaya diri anak,” terang dr. Heris.
Menurutnya, pendekatan pendidikan harus disesuaikan dengan karakter masing-masing anak, ada anak yang bisa menerima arahan dengan cepat, ada juga yang tidak, dan tentunya parenting tetap berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan Al-Hadits.
“Orang tua juga harus bijak dalam menyikapi konflik rumah tangga. Menurutnya, konflik adalah hal yang wajar, namun sebaiknya tidak diperlihatkan di hadapan anak karena dapat berdampak pada perkembangan psikologis mereka,” tutup dr. Heris.
Sementara itu, Ketua DPD LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen LDII dalam membina umat yang berkarakter luhur. Ia menegaskan bahwa peran orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk generasi yang profesional religius.
“Kami berharap melalui seminar ini, para orang tua semakin memahami peranya dalam mendidik anak. Pembinaan generasi tidak bisa hanya diserahkan kepada lembaga pendidikan, tetapi harus dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep 29 Karakter Luhur yang dikembangkan LDII menjadi pedoman penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan tanggung jawab sosial.
“Harapan kami, kegiatan ini mampu memperkuat sinergi antara orang tua, anak, dan lingkungan pembinaan. Dengan demikian, generasi muda LDII Kota Kediri dapat tumbuh menjadi pribadi yang unggul, berakhlakul karimah, serta siap menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.
