Generus Putri Dusun Mangurejo PAC LDII Bangkok belajar praktik menjahit di Aula Masjid Al-Mubarak, Jum'at (16/10). Foto: LINES
Kediri (16/10). Bidang Keputrian Dusun Mangurejo, PAC LDII Bangkok menggelar kegiatan Kemandirian Keputrian berupa praktik menjahit di Aula Masjid Al-Mubarak, Jum’at (16/10). Kegiatan tersebut diikuti generus putri Dusun Mangurejo sebagai upaya membekali mereka dengan keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Para peserta mendapat materi dan praktik langsung tentang cara memperbaiki pakaian yang mengalami kerusakan ringan, mulai dari jahitan yang terlepas hingga bagian yang sobek. Peserta diajak memahami bahwa pakaian yang rusak ringan tidak harus langsung dibuang, melainkan bisa diperbaiki dan digunakan kembali.
Praktik menjahit tersebut dipandu oleh guru putri dari PAC LDII Bangkok, Rira, yang juga mengelola usaha toko baju. Berbekal pengalaman di bidang busana, ia membimbing peserta untuk mengenal teknik dasar menjahit sekaligus cara memperbaiki pakaian agar kembali rapi dan layak dikenakan.
“Banyak pakaian yang sebenarnya masih bisa dipakai, hanya karena jahitannya lepas atau ada kerusakan kecil langsung disimpan di lemari. Dengan keterampilan dasar menjahit, kita bisa perbaiki sendiri dan pakaian itu bisa digunakan kembali seperti semula,” ujar Rira.
Rira menjelaskan bahwa kerusakan ringan pada pakaian bukan alasan untuk membuang atau menggantinya. Ia justru ingin menanamkan konsep re-wear kepada peserta, yakni kebiasaan menggunakan kembali pakaian yang sudah diperbaiki sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih bijak dan tidak boros.
“Selain melatih kreativitas, menjahit juga mengajarkan kita untuk tidak boros. Daripada beli baru, lebih baik perbaiki yang sudah ada. Itu juga bagian dari cara hidup yang lebih mandiri dan bijak,” tambah Rira.

Sementara itu, Dewan Penasehat Keputrian PAC LDII Bangkok, Evi Rakhmawati menyampaikan bahwa keterampilan menjahit adalah salah satu bekal yang sering diremehkan, padahal dampaknya sangat terasa dalam kehidupan rumah tangga kelak. Ia berharap kegiatan ini membuka mata para generus putri bahwa kemandirian dimulai dari hal-hal kecil yang bisa dikerjakan sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain.
“Perempuan yang bisa menjahit bukan berarti kuno. Justru itu perempuan yang cerdas secara finansial. Daripada buang uang untuk beli baju baru atau bayar jasa perbaikan, kenapa tidak perbaiki sendiri? Satu keterampilan sederhana bisa menghemat pengeluaran keluarga dalam jangka panjang,” pungkas Evi Rakhmawati.
