Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 21, 2026
Nasional

Hari Santri Nasional, LDII Ajak Santri Adaptif Hadapi Zaman Tanpa Tinggalkan Jati Diri

  • October 23, 2025
  • 3 min read
  • 133 Views
Hari Santri Nasional, LDII Ajak Santri Adaptif Hadapi Zaman Tanpa Tinggalkan Jati Diri

Kediri (22/10). Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momen penting untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan dan peran santri dalam menjaga moral bangsa. Penetapan hari tersebut berakar dari Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 1945, yang menegaskan bahwa perjuangan santri tidak hanya soal ibadah, tetapi juga pembelaan terhadap tanah air.

Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menegaskan bahwa Hari Santri harus menjadi momentum refleksi untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan karakter, kebangsaan, dan kemandirian umat. “Santri bukan hanya penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga pelopor moral bangsa. Dalam sejarah perjuangan Indonesia, santri dan kiai telah berperan besar dalam menjaga persatuan serta membangun negeri,” ujarnya.

KH Chriswanto mengingatkan, masyarakat supaya tidak mengeneralisasi kesalahan segelintir pihak. “Pesantren telah berjasa besar dalam mencerdaskan bangsa dan menanamkan nilai-nilai keislaman serta cinta tanah air. Jangan sampai marwah pesantren ternodai oleh perilaku oknum,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola pesantren yang adaptif dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri keislaman. “Kementerian Agama bersama ormas Islam perlu memperkuat pembinaan, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan pesantren. Dengan langkah itu, pesantren akan semakin dipercaya sebagai lembaga pendidikan yang unggul dan berintegritas,” jelasnya.

Lebih lanjut, KH Chriswanto mengajak santri masa kini agar tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menghadapi tantangan era digital dan globalisasi. “Santri harus menjadi teladan akhlakul karimah, sekaligus memiliki kompetensi di bidang teknologi, ekonomi kreatif, dan sosial kemasyarakatan,” tambahnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al Ubaidah Kertosono, Habib Ubaidillah Al Hasany, menegaskan bahwa perjuangan santri tidak berhenti setelah kemerdekaan diraih. “Santri masa kini harus melanjutkan semangat juang pendahulunya dengan menyesuaikan diri terhadap konteks zaman,” ujarnya.

Menurutnya, pesantren telah menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemandirian, disiplin, dan kebersamaan. “Santri perlu memiliki keseimbangan antara ilmu agama dan keterampilan hidup agar menjadi manusia yang cerdas, terampil, dan berkarakter,” tuturnya.

Ia juga menilai pentingnya kepekaan sosial santri terhadap tantangan bangsa, seperti krisis moral, radikalisme, dan kesenjangan ekonomi. “Santri harus mampu hadir dengan solusi nyata, menjaga nilai Islam, sekaligus berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua DPD LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, menyampaikan bahwa semangat santri harus terus dijaga, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial. “Santri di era modern harus cerdas secara spiritual dan intelektual. Mereka dituntut tidak hanya memahami agama dengan baik, tetapi juga mampu beradaptasi, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, LDII Kota Kediri akan terus mendukung kegiatan pembinaan generasi muda di pesantren agar lahir santri yang tangguh, berakhlak, dan siap mengabdi untuk bangsa. “Santri adalah aset bangsa. Dengan ilmu, akhlak, dan semangat juang mereka, insyaallah Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat dan berperadaban,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *