Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 18, 2026
Nasional

Akademisi NU Ungkap Rahasia Karakter Warga LDII Lewat Buku Pendidikan Profesional Religius

  • March 13, 2026
  • 3 min read
  • 42 Views
Akademisi NU Ungkap Rahasia Karakter Warga LDII Lewat Buku Pendidikan Profesional Religius

Jakarta (13/3). Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus akademisi Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Ahmad Ali MD, meluncurkan buku terbarunya yang berjudul “Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius, dari Sabang sampai Merauke”. Peluncuran sekaligus bedah buku tersebut berlangsung di Sinabung Eight, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/3/2026).

Buku ini merupakan hasil penelitian mendalam yang menyoroti berbagai perilaku positif serta nilai-nilai moral yang berkembang di lingkungan LDII. Dalam karya tersebut, Ahmad Ali mengulas bagaimana proses internalisasi nilai-nilai kebajikan mampu membentuk karakter warga LDII yang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpegang pada prinsip religiusitas.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Penerbit Deepublish Yogyakarta itu menghadirkan sejumlah pakar pendidikan Islam sebagai penanggap. Mereka memberikan pandangan akademis sekaligus menguji konsep “Profesional Religius” yang selama ini menjadi identitas pembinaan karakter warga LDII.

Dalam pemaparannya, Ahmad Ali mengungkapkan bahwa ketertarikannya untuk meneliti LDII berawal dari berbagai isu negatif dan kontroversi yang ia dengar sejak tahun 2001. Rasa ingin tahu tersebut mendorongnya melakukan penelitian secara langsung untuk memperoleh gambaran yang objektif mengenai organisasi tersebut.

“Manusia sering memusuhi sesuatu yang tidak mereka pahami. Prasangka buruk biasanya muncul dari ketidaktahuan. Sebagai orang NU yang awalnya belum mengenal LDII, saya tidak ingin memusuhi siapa pun. Saya ingin menjadi kawan dengan cara memahami sistem mereka secara objektif,” ungkap Ahmad Ali.

Ia menjelaskan bahwa penelitiannya dilakukan dengan pendekatan positif untuk memahami praktik keagamaan serta nilai-nilai moral yang berkembang di kalangan warga LDII. Hasil penelitian tersebut sebelumnya telah melahirkan buku pertama yang mengulas nilai-nilai kebajikan dalam jamaah LDII.

Salah satu temuan penting dari penelitian tersebut adalah keberhasilan LDII menerapkan sistem pendidikan yang relatif seragam di seluruh Indonesia. Mulai dari pembiasaan kebersihan dan kesucian (thoharoh), hingga penanaman 29 Karakter Luhur sebagai fondasi pembentukan kepribadian. Temuan ini kemudian menjadi dasar lahirnya buku jilid kedua yang lebih menyoroti sistem pendidikan tersebut.

“Dari penelitian itu saya menemukan bahwa perilaku positif warga LDII yang saya tulis dalam buku pertama ternyata berakar dari sistem pendidikan yang diterapkan secara luas dari Sabang sampai Merauke. Mereka memiliki platform yang sama dalam membentuk karakter profesional religius,” tambahnya.

Bedah buku tersebut juga menghadirkan tiga pakar pendidikan sebagai pembedah untuk memberikan perspektif akademis terhadap karya tersebut. Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KH Dede Rosyada, mengapresiasi penerbitan buku sekaligus sistem pendidikan yang dikembangkan oleh LDII.

Menurutnya, LDII telah lebih dahulu menerapkan pendidikan yang berorientasi pada keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Dalam buku jilid kedua ini dijelaskan bahwa pendidikan formal yang dikembangkan memiliki orientasi keterampilan yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Dengan demikian, para siswa yang lulus tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam dunia kerja,” ujar KH Dede Rosyada.

Ia menilai pendekatan tersebut selaras dengan konsep “Merdeka Belajar” yang dicanangkan pemerintah, di mana lulusan pendidikan diharapkan memiliki kompetensi nyata, bukan sekadar capaian akademis.

Selain itu, menurutnya, penguatan nilai-nilai agama di lingkungan LDII tidak berhenti pada tataran teori semata, melainkan telah menjadi budaya yang dijalankan secara konsisten.

“Penguatan nilai agama di LDII bukan hanya sebatas wacana, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Agama tumbuh melalui pembiasaan, dan LDII berhasil membangun kultur tersebut,” jelasnya.

Pendapat serupa juga disampaikan Guru Besar Universitas PTIQ Nur Afif serta Made Saihu. Keduanya memberikan sejumlah indikator akademis terkait sejauh mana konsep “Profesional Religius” telah diimplementasikan dalam praktik pendidikan di lingkungan LDII.

Melalui peluncuran dan diskusi buku ini, para akademisi berharap kajian mengenai sistem pendidikan dan nilai-nilai kebajikan di lingkungan LDII dapat menjadi referensi ilmiah serta membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai praktik pendidikan keagamaan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *