Wakil Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Yuda Langgeng dalam materi Literasi Digital pada Pengajian Akbar Pemuda LDII Kediri
Kediri (17/5). Di tengah pesatnya perkembangan media sosial saat ini, LDII Kota Kediri mengajak generasi muda untuk lebih bijak dan berakhlak dalam menggunakan media sosial. Ajakan tersebut disampaikan dalam Pengajian Akbar Pemuda LDII Kediri pada Minggu (17/5), di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Kota Kediri.
Dalam pemaparannya, Wakil Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Yuda Langgeng menekankan pentingnya menjaga ucapan dan pemilihan kata ketika berinteraksi di media sosial. Menurutnya, meskipun komunikasi dilakukan secara virtual, etika dan sopan santun tetap harus dijaga sebagaimana dalam kehidupan nyata.
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau diam,” ujarnya mengutip hadis Nabi Muhammad SAW riwayat Bukhari dan Muslim.
Ia menjelaskan bahwa setiap unggahan, komentar, maupun tulisan di media sosial harus dipikirkan terlebih dahulu agar tidak menyakiti maupun merugikan orang lain. Pemuda, menurutnya, harus mampu menjadi pengguna media sosial yang santun dan bertanggung jawab.
Selain itu, peserta juga diingatkan untuk menghindari penyebaran ujaran kebencian maupun perilaku saling mencela di media sosial. Ia menilai fenomena tersebut semakin marak terjadi dan berpotensi merusak persaudaraan serta menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencela kaum yang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik daripada yang mencela,” kutipnya dari Q.S. Al-Hujurat ayat 11.
Ia menambahkan bahwa penyebaran ujaran kebencian bukan hanya bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga melanggar hukum di Indonesia karena termasuk perbuatan pidana.
Dalam kesempatan tersebut, Yuda juga menekankan pentingnya budaya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Menurutnya, perkembangan media sosial membuat arus informasi sangat cepat sehingga masyarakat harus memiliki kemampuan berpikir kritis.
“Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar,” ujarnya mengutip hadis Nabi SAW riwayat Muslim.

Ia mengingatkan, agar generasi muda tidak mudah menyebarkan informasi tanpa memastikan sumber dan dampaknya. Menurutnya, informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan, perselisihan, maupun fitnah sebaiknya tidak disebarluaskan.
Selain membahas etika komunikasi, ia juga menyoroti fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang marak terjadi di kalangan generasi muda. Fenomena tersebut membuat seseorang takut dianggap tertinggal tren, tidak gaul, atau berbeda dari lingkungan pertemanannya.
Padahal, menurutnya, tidak semua tren media sosial membawa dampak positif. Banyak tren justru mengarah pada perilaku yang merusak moral, kesehatan mental, maupun nilai agama.
“Generasi muda jangan mudah terbawa arus tren negatif hanya demi pengakuan atau viral di media sosial. Harus punya prinsip dan mampu memilah mana yang bermanfaat dan mana yang merusak,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga privasi dan aurat di media sosial. Menurutnya, segala sesuatu yang diunggah ke internet berpotensi menjadi konsumsi publik dan sulit dikendalikan penyebarannya, terlebih di tengah perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI).
“Jangan berlebihan menyebarkan informasi pribadi, apalagi mengumbar aurat demi perhatian di media sosial. Itu bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri, tetapi juga dapat membawa dampak buruk bagi orang lain,” pungkasnya.
