Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 29, 2026
Dakwah Nasihat Pendidikan

Lailatul Qadr adalah Anugerah Besar bagi Umat Nabi Muhammad SAW

  • March 11, 2026
  • 4 min read
  • 64 Views
Lailatul Qadr adalah Anugerah Besar bagi Umat Nabi Muhammad SAW

Oleh : Asyhari Eko Prayitno (Sekretaris LDII Kota Kediri)

Di antara keistimewaan Bulan Ramadan yang paling dinantikan oleh umat Islam adalah hadirnya Lailatul Qadr, malam yang disebut lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini bukan hanya memiliki nilai ibadah yang luar biasa, tetapi juga memiliki sejarah yang menarik dan penuh hikmah tentang kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah Hadits Riwayat Ibnu Abi Hatim, dari Ali bin Urwah disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat tentang empat orang saleh dari Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun tanpa pernah bermaksiat sedikit pun. Mereka adalah Nabi Ayyub, Nabi Zakariya, Hizqil bin al-‘Ajuz, dan Yusya’ bin Nun. Kisah ini membuat para sahabat merasa takjub sekaligus kagum terhadap keteguhan ibadah mereka.

Waktu itu, para sahabat merasa takjub karena mereka membayangkan betapa panjangnya waktu yang diperlukan untuk mencapai ibadah yang begitu sempurna.

Melihat kekaguman tersebut, Allah SWT menunjukkan kasih sayang-Nya kepada umat Nabi Muhammad SAW. Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah telah memberikan sesuatu yang lebih baik daripada ibadah selama puluhan tahun tersebut.

Kemudian Jibril membacakan firman Allah dalam Al-Qur’an, Surat Al Qodr 1-3 yang isinya :

“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatul qadr. Tahukah kamu apakah malam lailatul qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3)

Seribu bulan jika dihitung setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam ibadah di Lailatul Qadr memiliki nilai yang melebihi masa ibadah yang sangat panjang.

Riwayat tersebut kemudian ditutup dengan kabar bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat merasa sangat gembira atas karunia tersebut.

Dari kisah ini, dapat dipahami bahwa Lailatul Qadr merupakan bentuk rahmat Allah yang luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW. Umat ini memang dikenal memiliki usia yang relatif lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu. Namun Allah menggantinya dengan peluang ibadah yang sangat besar melalui malam yang penuh kemuliaan tersebut.

Lailatul Qadr dengan demikian bukan sekadar malam istimewa dalam kalender ibadah Islam. Ia merupakan bentuk kasih sayang Allah yang memberikan kesempatan bagi umat Nabi Muhammad untuk meraih pahala besar dalam waktu yang singkat.

Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi momentum yang sangat berharga. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan untuk meningkatkan ibadah pada malam-malam tersebut dengan memperbanyak salat, doa, dan membaca Al-Qur’an.

Pada akhirnya, kisah sejarah Lailatul Qadr mengajarkan bahwa rahmat Allah selalu melampaui keterbatasan manusia. Dengan kesungguhan ibadah pada malam yang penuh kemuliaan itu, seorang Muslim dapat meraih pahala yang nilainya melebihi puluhan tahun amal ibadah.

Inilah bukti bahwa dalam Islam, kualitas ibadah sering kali lebih utama daripada panjangnya usia. Dan Lailatul Qadr menjadi kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk memperbanyak amal, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mari kita jadikan kisah empat orang saleh Bani Israil tersebut sebagai motivasi. Bukan untuk merasa kalah sebelum bertanding, melainkan untuk lebih mensyukuri anugerah Lailatul Qadar. Jangan biarkan malam yang lebih baik dari 80 tahun itu lewat begitu saja tanpa doa, tanpa dzikir, dan tanpa salat.

Sebab, bagi mereka yang meraih Lailatul Qadar, usia pendek bukan lagi penghalang untuk meraih derajat mulia di sisi Allah SWT.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ عُرْوَةَ قَالَ: ذَكَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا أَرْبَعَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، عَبَدُوا اللهَ ثَمَانِينَ عَامًا، لَمْ يَعْصُوْهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ: فَذَكَرَ أَيُّوبَ، وَزَكَرِيَّا، وحِزْقِيْلَ بْنَ الْعَجُوزِ، وَيُوشَعَ بْنَ نُونٍ قَالَ: فَعَجِبَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ ذَلِكَ، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، عَجِبَتْ أُمَّتُكَ مِنْ عِبَادَةِ هَؤُلَاءِ النَّفَرِ ثَمَانِينَ سَنَةً، لَمْ يَعْصُوه طَرْفَةَ عَيْنٍ؛ فَقَدَ أَنْزَلَ اللهُ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ. فَقَرَأَ عَلَيْهِ: {إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ} هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبْتَ أَنْتَ وَأُمَّتُكَ. قَالَ: فَسُرَّ بِذَلِكَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالنَّاسُ مَعَهُ * رواه ابن أبي حاتم في تفسير ابن كثير

Artinya : Dari Ali bin Urwah, ia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah ﷺ menceritakan tentang empat orang dari Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun tanpa bermaksiat kepada-Nya meski sekejap mata pun. Beliau menyebutkan mereka adalah: Nabi Ayyub, Nabi Zakaria, Hizqil bin Al-Ajuz, dan Yusya’ bin Nun.” Ali bin Urwah melanjutkan: “Para sahabat Rasulullah ﷺ pun merasa takjub (kagum sekaligus merasa kecil hati) terhadap hal itu. Kemudian Malaikat Jibril datang kepada beliau dan berkata: ‘Wahai Muhammad, umatmu merasa takjub terhadap ibadah mereka selama delapan puluh tahun tanpa bermaksiat sekejap mata pun, padahal sesungguhnya Allah telah menurunkan yang lebih baik dari itu.’ Lalu Jibril membacakan kepada beliau: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Kitab Al-Qur’an) pada malam lailatul qadr. Dan tahukah kamu apakah malam lailatul qadr itu? Lailatul qadr itu lebih baik dari seribu bulan.’ (QS. Al-Qadr: 1-3). Jibril berkata: ‘Ini (Lailatul Qadar) lebih utama daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi.’ Maka Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang bersama beliau merasa sangat gembira karena hal tersebut.” (HR. Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir Ibnu Katsir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *