Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 19, 2026
Daerah

Muswil X LDII Jawa Timur: Ormas Islam Perkuat Komitmen Kebangsaan dan Gagasan Islam Berkemajuan

  • August 31, 2025
  • 4 min read
  • 45 Views
Muswil X LDII Jawa Timur: Ormas Islam Perkuat Komitmen Kebangsaan dan Gagasan Islam Berkemajuan

Surabaya (31/8). Musyawarah Wilayah (Muswil) X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur menjadi ajang mempererat persatuan umat sekaligus meneguhkan komitmen kebangsaan. Acara ini berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Sabilurrosyidin, Surabaya, dan dihadiri para tokoh masyarakat, ormas Islam, serta pemuka lintas agama.

Hari pertama Muswil diisi dengan Dialog Kebangsaan yang menampilkan sejumlah tokoh dari berbagai organisasi keagamaan. Hadir di antaranya Ketua DPW LDII Jatim Amrodji Konawi, Ketua PW Muhammadiyah Jatim Prof. Sukadiono, serta Sekretaris MUI Jatim KH Hasan Ubaidillah.

Dalam sambutannya, Amrodji menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, bahkan ketika masih bernama LEMKARI, LDII telah menjadikan semangat kebangsaan sebagai pijakan. Ia menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan seluruh elemen bangsa.

“Kemerdekaan ini adalah hasil jerih payah kolektif, bukan hanya milik satu kelompok, agama, atau etnis. Tugas kita adalah menjaganya sampai akhir zaman,” ujarnya.

Amrodji juga mengajak umat Islam untuk menempatkan diri secara arif dalam kehidupan berbangsa dengan merujuk pada Al-Qur’an. Ia mengutip Surat Al-Hujurat ayat 13 tentang keberagaman bangsa dan suku untuk saling mengenal, serta Surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang menekankan keadilan dan kebaikan kepada semua, termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan selama tidak memusuhi umat Islam. Menurutnya, LDII konsisten menjaga persatuan melalui wadah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang ia ibaratkan sebagai kapal besar penopang perjalanan bangsa.

“LDII sama dengan ormas Islam lainnya, kita bersaudara. Bahkan dengan umat berbeda agama pun kita tetap harus berlaku adil, karena itu perintah Allah. Kebersamaan ini penting demi menjaga keutuhan bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Prof. Sukadiono, menyoroti visi Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah. Menurutnya, ada tiga pilar penting yang perlu diwujudkan oleh ormas Islam.

Pertama, Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk teknologi digital. “Saya melihat LDII sudah mulai menyesuaikan diri, salah satunya lewat pemanfaatan digitalisasi,” ujarnya.

Kedua, Islam yang kreatif dan inovatif. Ormas Islam, lanjutnya, tidak boleh terpaku pada pola lama, melainkan harus mampu melahirkan solusi baru menghadapi tantangan modern.

Ketiga, Islam yang kolaboratif. “Ormas Islam tidak bisa berdiri sendiri, harus berkolaborasi dan bersinergi dengan siapapun yang terpilih sebagai pemimpin bangsa,” tegasnya.

Prof. Sukadiono juga menekankan bahwa dakwah bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengar dan memberi jalan keluar. Muhammadiyah, kata dia, senantiasa menggerakkan amal usaha, menjalin kerja sama dengan NU, LDII, dan ormas lainnya, sebagai wujud Islam Wasathiyah. Ia menegaskan bahwa ormas Islam harus menjaga stabilitas bangsa, menolak hal-hal yang bertentangan dengan agama seperti LGBT, namun tetap membuka ruang kolaborasi dalam kebaikan.

Di sisi lain, Sekretaris MUI Jatim, KH Hasan Ubaidillah, mengingatkan pentingnya memperkokoh Islam Wasathiyah atau Islam moderat sebagai identitas umat Islam Indonesia. “Wasathiyah itu jalan tengah, tidak condong ke kiri atau ke kanan. Itulah wujud Islam rahmatan lil alamin, dan Indonesia adalah contohnya,” ucapnya.

Baca juga: Demonstrasi di Berbagai Daerah, LDII Sampaikan Rasa Prihatin dan Ajak Elit Dengarkan Suara Rakyat

Hasan menilai sikap santun para peserta LDII yang hadir mencerminkan nilai Islam moderat. Ia juga menyinggung tantangan kebangsaan terkait kondisi ekonomi nasional, dengan merujuk pada pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai defisit APBN 2026 yang berdampak pada penurunan Dana Bagi Hasil (DBH) bagi daerah. Akibatnya, sejumlah daerah menaikkan pajak daerah hingga 200–400 persen, yang tentu memberatkan masyarakat.

“Tanpa kenaikan pajak pun rakyat sudah kesulitan. Kenaikan seperti itu jelas menambah beban,” ungkap Hasan yang juga Sekretaris PWNU Jatim.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Islam Wasathiyah harus menjadi pegangan dalam merespons kondisi bangsa, termasuk menghadapi fenomena sosial di kalangan anak muda, seperti pengibaran bendera tokoh fiksi One Piece saat peringatan kemerdekaan, maraknya isu LGBT, hingga tren musik horeg.

“Jika generasi muda lebih memilih mengibarkan bendera fiksi ketimbang merah putih, kita harus bertanya: apakah nasionalisme mereka mulai memudar? Begitu juga soal LGBT dan tren budaya negatif lainnya, apakah ini mencerminkan nilai bangsa kita?” tanyanya.

Hasan menekankan bahwa para tokoh agama perlu menyikapi persoalan tersebut dengan bijaksana, melalui keteladanan, akhlak mulia, serta pendidikan yang menuntun generasi muda agar tetap berada dalam koridor Islam rahmatan lil alamin.

“Kita tidak bisa hanya marah atau reaktif. Yang dibutuhkan generasi muda adalah teladan nyata yang bisa mereka pegang ketika menghadapi derasnya arus budaya global yang tidak sejalan dengan identitas bangsa dan agama,” pungkasnya.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *