Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 18, 2026
Nasional

Seruan Dakwah Ekologis Setelah Banjir Sumatra, Kemenhaj dan LDII Dorong Ormas Islam Perkuat Kepedulian Lingkungan

  • December 9, 2025
  • 3 min read
  • 99 Views
Seruan Dakwah Ekologis Setelah Banjir Sumatra, Kemenhaj dan LDII Dorong Ormas Islam Perkuat Kepedulian Lingkungan

Jakarta (9/12). Musibah banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi perhatian serius pemerintah. Kementerian Haji dan Umrah RI menetapkan kebijakan khusus berupa penundaan seleksi petugas haji serta relaksasi pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) bagi calon jemaah dari tiga provinsi tersebut. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk empati atas kondisi darurat yang masih berlangsung.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan langkah untuk memastikan kesiapan dan kelancaran pelayanan jamaah. Pelunasan BPIH yang semula berakhir 23 Desember 2025 kini diperpanjang khusus untuk wilayah terdampak. Menurutnya, tidak boleh ada jamaah yang kehilangan kesempatan berangkat ke Tanah Suci akibat bencana yang berada di luar kendali mereka.

Dahnil menuturkan bahwa dua wilayah yang terimbas banjir, Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah, merupakan kampung halamannya, tempat ia menghabiskan masa sekolah dasar dan menengah pertama. Atas dasar itu, ia bersama relawan Matahari Pagi Indonesia turun langsung menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

Ia melihat musibah ini sebagai momentum penting untuk mengingatkan kembali seluruh pihak akan pentingnya merawat lingkungan. Menurutnya, ormas-ormas Islam seperti LDII, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis di tingkat masyarakat.
“Merawat alam itu fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah. Setiap orang memikul tanggung jawab yang sama,” tegasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua DPP LDII sekaligus Guru Besar IPB, Prof. Dr. Ir. Sudarsono, menerangkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dengan 12,7 juta hektare lahan kritis yang harus dipulihkan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan menanam pohon hari ini sama halnya dengan menanam krisis untuk masa depan.
“Pohon adalah mesin kehidupan—menyerap karbon, menghasilkan oksigen, menjaga siklus air, sekaligus menahan longsor dan banjir,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sejak 2007 LDII telah menjalankan program Go Green melalui penanaman jutaan pohon, pembinaan sekolah dan pesantren, serta pengembangan pusat edukasi lingkungan di Bumi Perkemahan Cinta Alam Indonesia, Wonosalam, Jombang. Bagi LDII, menanam pohon bukan hanya kegiatan sosial, tetapi bagian dari ibadah dan kontribusi nyata untuk generasi mendatang.

Selain upaya internal, LDII menekankan perlunya kolaborasi antar sektor, pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat—agar rehabilitasi lahan kritis dapat berjalan berkelanjutan. Pemilihan jenis pohon, perawatan pascatanam, serta pengembangan ekonomi hijau seperti ekowisata menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Ketua DPD LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, turut menegaskan pentingnya dakwah ekologis setelah bencana banjir Sumatra. Menurutnya, bencana yang terjadi di berbagai daerah merupakan pengingat agar masyarakat memperkuat tanggung jawab terhadap alam.

“Musibah ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan membawa dampak yang sangat luas. LDII Kota Kediri mendukung penuh seruan dakwah ekologis yang disampaikan pemerintah. Edukasi menjaga alam harus dimulai dari keluarga, masjid, majelis taklim, hingga para generasi penerus,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa LDII Kota Kediri terus mendorong kegiatan penghijauan, edukasi pengelolaan sampah, serta pembinaan generasi muda agar memahami ilmu-ilmu lingkungan sebagai bagian dari ibadah.

“Ketika masyarakat memiliki kesadaran ekologis yang kuat, bencana bisa diminimalkan dan kualitas hidup akan meningkat. Ini adalah tanggung jawab bersama, dan LDII siap berkolaborasi dengan siapa pun untuk menjaga bumi sebagai amanah dari Allah,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *