Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
May 25, 2026
Dakwah Nasihat

Memahami Hadis tentang Keimanan Umat Akhir Zaman

  • February 12, 2026
  • 4 min read
  • 102 Views
Memahami Hadis tentang Keimanan Umat Akhir Zaman

Keimanan merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Dalam sebuah kajian keislaman, disampaikan sebuah hadis yang sering menjadi bahan renungan umat Islam, khususnya terkait keimanan umat akhir zaman.

Hadis tersebut diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya:

عن عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عن أَبِيهِ، عن جَدِّهِ، قَالَ: قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:«أَيُّ الخَلْقِ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟» قالوا: المَلَائِكَةُ.
قالَ: «وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ؟!» قالوا: النَّبِيُّونَ. قالَ: «وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَالوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟!» قالوا: فَنَحْنُ؟ قالَ: «وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟!» ثم قالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:«إِنَّ أَعْجَبَ الخَلْقِ إِلَيَّ إِيمَانًا قَوْمٌ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ، يَجِدُونَ صُحُفًا فِيهَا كِتَابُ اللهِ، فَيُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا.»

Dari riwayat ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Makhluk manakah yang paling mengherankan keimanannya menurut kalian?” Para sahabat menjawab: “Para malaikat!” Rasulullah ﷺ bersabda: “Bagaimana tidak mereka beriman, sedangkan mereka berada di sisi Tuhannya?” Para sahabat berkata lagi: ” Para nabi!” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bagaimana tidak mereka beriman, sedangkan wahyu turun atas mereka?” Mereka berkata: “Kalau begitu kami, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bagaimana tidak kalian beriman, aku ada di tengah-tengah kalian!” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah, makhluk yang paling mengherankan keimanannya bagiku adalah suatu kaum yang datang setelah kalian. Mereka tidak pernah bertemu denganku, namun mereka membaca lembaran-lembaran (Al-Qur’an) lalu mereka beriman terhadap apa yang ada di dalamnya.” (HR. Hasan bin Arafah, dinukil sebagian oleh Imam Ibnul Qayyim dalam al-Manar al-Munif, hlm. 97)

Ibnu Qayyim dalam al-Manār al-Munīf (hlm. 97) menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan adanya derajat keimanan yang tinggi pada mereka yang beriman tanpa melihat langsung Nabi ﷺ dan tanpa menyaksikan turunnya wahyu. Keimanan tersebut lahir dari keyakinan terhadap berita yang sampai melalui Al-Qur’an.

Imam Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Īmān menerangkan bahwa keimanan generasi setelah sahabat yang tetap berpegang teguh pada wahyu merupakan bukti kuatnya kepercayaan dan kecintaan terhadap Islam. Sementara itu, Ibnu Rajab dalam Fath al-Bārī li Ibn Rajab menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang tetap memegang Islam di masa penuh tantangan, meskipun tidak hidup sezaman dengan Nabi ﷺ.

Namun, pemahaman hadis ini perlu ditempatkan secara proporsional. Kata أَعْجَبُ (a’jabu) dalam hadis tersebut berarti “paling mengherankan” atau “menakjubkan”, bukan “paling utama” atau “paling tinggi derajatnya”. Kekaguman tidak identik dengan keunggulan mutlak.

Rasulullah ﷺ sendiri telah menegaskan keutamaan para sahabat dalam hadis sahih berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ»

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, maka itu tidak akan menyamai satu mud (takaran) atau setengah mud yang mereka infakkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan tingginya derajat para sahabat, yang tidak dapat disamai oleh generasi setelahnya, meskipun amal mereka tampak besar secara kuantitas. Ibnu Hajar dalam Fath al-Bārī menambahkan bahwa keutamaan amal sahabat terletak pada kondisi hati, keikhlasan, serta pengorbanan luar biasa di masa awal dakwah.

Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah ﷺ:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.»

Dari Imron bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda; ” Sebaik-baik manusia adalah generasiku, lalu yang setelahnya, lalu yang setelahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, Allah SWT juga menegaskan adanya perbedaan derajat dalam Al-Qur’an:

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempunyai langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan di antara para sahabat sendiri terdapat tingkatan keutamaan berdasarkan konteks perjuangan dan pengorbanan.

Dengan demikian, generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tetap merupakan generasi terbaik umat ini. Keimanan mereka ditempa dalam ujian berat, pengorbanan jiwa dan harta, serta pendampingan langsung bersama Rasulullah ﷺ.

Adapun keimanan umat akhir zaman dapat menjadi sesuatu yang mengherankan karena tetap tumbuh di tengah derasnya fitnah, jarak zaman, dan tidak adanya wahyu yang turun secara langsung. Namun, rasa takjub tersebut bukanlah penetapan bahwa derajatnya melampaui generasi terbaik.

Hadis ini penting agar umat Islam tidak terjebak pada euforia yang berlebihan. Keimanan bukan tentang merasa paling istimewa, melainkan tentang menjaga keteguhan, adab terhadap generasi terbaik, serta komitmen terhadap Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salafus shalih.

Semoga kita termasuk golongan yang istiqamah dalam keimanan, tetap rendah hati, serta terus memperbaiki diri di tengah tantangan zaman. Karena iman bukan tentang siapa yang paling merasa unggul, tetapi siapa yang paling tulus dan konsisten hingga akhir hayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *