Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 22, 2026
Daerah Pendidikan Pesantren

Ribuan Pemuda LDII Ikuti Pengajian Akbar 2026 di Ponpes Nurul Huda Al Manshurin

  • February 15, 2026
  • 3 min read
  • 39 Views
Ribuan Pemuda LDII Ikuti Pengajian Akbar 2026 di Ponpes Nurul Huda Al Manshurin

Kediri (15/2). LDII Kota Kediri Kembali menggelar Pengajian Akbar Pemuda LDII dengan tema “Mewujudkan Generasi LDII Profesional Religius, Berkarakter Luhur Menuju Indonesia Emas 2045”, diikuti ribuan pemuda LDII, bertempat di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Kota Kediri, pada Minggu (15/2).

Sekretaris LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno yang juga Ketua Ponpes Nurul Huda Al Manshurin mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membentengi generasi muda dari dampak negatif digitalisasi sekaligus memperkuat karakter profesional religius di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Melalui pengajian akbar ini, kita ingin memastikan bahwa pemuda LDII Kota Kediri tidak hanya cakap secara teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki akar iman yang menghujam kuat. Kita ingin mereka menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan mampu bekerja sama dalam kebaikan,” ujar Asyhari Eko Prayitno.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan pemuda di era informasi adalah menjaga integritas lisan dan perilaku di ruang publik maupun media sosial.

“Menjaga lisan dan etika digital adalah cerminan dari iman. Kami mendorong anak-anak muda kita untuk menjadi agen penyejuk di tengah masyarakat, bukan justru menjadi sumber kegaduhan. Itulah implementasi nyata dari karakter profesional religius yang kita canangkan,” tambahnya.

Kegiatan tersebut diisi dengan kajian Al-Qur’an dan Al-Hadist, serta sesi motivasi dengan menghadirkan dua orang narasumber dari Surabaya dan Jombang. Fokus utama pengajian ini adalah penanaman “Tri Sukses” generasi penerus, yaitu memiliki alim-faqih (pemahaman agama yang kuat), berakhlakul karimah (berbudi pekerti luhur), dan mandiri.

Ribuan Pemuda LDII Ikuti Pengajian Akbar 2026 di Ponpes Nurul Huda Al Manshurin
Ribuan Pemuda LDII Ikuti Pengajian Akbar 2026 di Ponpes Nurul Huda Al Manshurin

Salah satu narasumber, Ust. Semoga Jaya dari Surabaya memberikan pembekalan bagi generasi penerus (generus) mengenai pentingnya menjaga jati diri dan kualitas ibadah di tengah tantangan zaman. Ia menekankan bahwa menjadi bagian dari lingkungan pembinaan yang mengarahkan pada keselamatan dunia dan akhirat adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri dengan kebanggaan.

“Tidak semua orang dipilih untuk berada di jalan hidayah ini. Maka, kita harus memiliki kebanggaan sebagai calon ahli surga yang senantiasa berupaya menjaga ketakwaan,” ungkapnya.

Dalam paparannya, ia juga menjelaskan bahwa orientasi akhirat seseorang dapat dikenali dari kebiasaan dan amal perbuatannya selama di dunia. Karakter ahli surga tecermin dari konsistensi dalam menjalankan amalan baik, menjaga kualitas ibadah, serta ketegasan dalam menjauhi maksiat.

“Amalan di dunia adalah cerminan dari akhir kehidupan kita. Jika di dunia kita terbiasa dalam ketaatan, insyaAllah akhirnya akan baik (husnul khatimah). Namun, jika terbiasa melakukan pelanggaran, hal itu sangat membahayakan masa depan akhirat kita,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya selektif dalam memilih lingkaran pergaulan. Menurutnya, lingkungan sosial merupakan faktor dominan yang membentuk pola pikir dan kebiasaan seseorang. Pergaulan yang sehat akan menjadi akselerator kebaikan, sedangkan pergaulan yang salah dapat menjadi pintu gerbang menuju keburukan.

Selanjutnya, Ust.Naufal, Narasumber dari Jombang, dalam sesi penguatan dalil menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui tiga pilar Utama, yakni berakhlakul karimah, alim-faqih, dan mandiri. Ia menegaskan bahwa akhlak menduduki posisi penting sebagai fondasi utama.

“Akhlakul karimah kami letakkan di urutan pertama karena sangat penting. Generasi penerus harus mencontoh perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keimanan di akhir zaman sangat fluktuatif dan mudah goyah. Salah satu tantangan terbesarnya adalah teknologi. “Handphone itu ibarat pisau bermata dua, bisa digunakan untuk kebaikan dan bisa juga untuk kemaksiatan. Maka kita harus pintar menggunakannya,” tegasnya.

Menurutnya, lingkungan yang baik dan gemar mendengarkan nasihat adalah kunci menjaga konsistensi iman. “Kalau sejak muda sudah terbiasa disiplin ibadah, menjaga akhlak, dan memilih pergaulan yang baik, insyaAllah ke depan akan menjadi pemimpin yang amanah dan profesional,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *