LDII Kota Kediri dan Dinkes FKKI
Kediri (17/12). Sekitar 500 santri Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri bersama santri dari sejumlah pondok pesantren di Kota dan Kabupaten Kediri mengikuti seminar kesehatan bertajuk Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung DMC Ponpes Wali Barokah, Selasa (16/12), sebagai upaya peningkatan literasi kesehatan di lingkungan pesantren.
Seminar tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas Kesehatan Kota Kediri dan Forum Komunikasi Kesehatan Islam (FKKI). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Musyawarah Daerah (Musda) VII LDII Kota Kediri, yang dijadwalkan berlangsung keesokan harinya dan akan dibuka oleh Wali Kota Kediri. Melalui seminar ini, santri dibekali pemahaman dasar penanganan kegawatdaruratan medis sebelum bantuan tenaga kesehatan profesional tiba di lokasi.
Ketua DPD LDII Kota Kediri sekaligus Wakil Ketua Ponpes Wali Barokah Kediri, Agung Riyanto, menegaskan bahwa pemahaman mengenai BLS memiliki peran krusial karena berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa. Ia menjelaskan, pengetahuan dasar seperti penanganan pingsan atau henti jantung perlu diketahui oleh masyarakat luas agar tidak terjadi keterlambatan pertolongan awal.
Menurut Agung, santri dipilih sebagai peserta karena kelak akan terjun langsung ke tengah masyarakat sebagai mubaligh dan mubalighot. Dengan pembekalan ini, santri diharapkan memiliki kesiapsiagaan dan keberanian dalam menghadapi situasi darurat. Setidaknya, mereka mampu melindungi diri sendiri dan berkontribusi membantu orang lain saat terjadi kondisi kegawatdaruratan.
Sementara itu, promotor kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Kediri, Emmy Widiastuti, menyampaikan bahwa materi seminar tidak hanya berfokus pada Bantuan Hidup Dasar, tetapi juga mencakup Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Edukasi ini diarahkan pada upaya promotif dan preventif guna menekan angka kesakitan sekaligus mengurangi beban biaya pengobatan.
Emmy juga menyoroti tingginya kasus penyakit jantung yang sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat. Mengingat jumlah peserta yang cukup besar, praktik BLS dilakukan secara terbatas melalui perwakilan peserta agar tetap efektif dan terarah.
Dalam kesempatan yang sama, Haris Setiawan Kusumaningrat dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Surabaya menekankan pentingnya pembekalan BLS bagi santri. Ia menilai santri Wali Barokah memiliki potensi besar sebagai agen edukasi kesehatan karena nantinya akan ditugaskan ke berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Menurut Haris, kegawatdaruratan kardiovaskular dapat terjadi kapan saja dan di mana saja tanpa memandang usia. Oleh karena itu, kecepatan penanganan menjadi faktor penentu keselamatan. Rentang waktu enam hingga sembilan menit pertama disebut sebagai masa krusial yang sangat menentukan peluang hidup pasien.
Dari sisi layanan kegawatdaruratan, Koordinator Layanan Gawat Darurat Medis 119 Dinas Kesehatan Kota Kediri, Andrianto, mengaitkan materi BLS dengan sistem layanan darurat terpadu yang telah berjalan di Kota Kediri. Ia menjelaskan bahwa layanan 112 saat ini telah terintegrasi, sehingga laporan kegawatdaruratan medis akan langsung diteruskan ke layanan 119 dan rumah sakit rujukan.
Andrianto menambahkan, sejak layanan 112 diaktifkan, jumlah laporan kedaruratan meningkat hingga tiga kali lipat. Hal tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap respons cepat. Karena itu, keberadaan masyarakat atau relawan yang memiliki kemampuan dasar BLS dinilai sangat penting agar masa emas penanganan tidak terlewat sebelum tenaga medis tiba di lokasi.
