Gelar Webinar, LDII Jateng : Keluarga Miliki Peran Hindari Disintegrasi Bangsa
Prof Singgih - Ketua DPP LDII
Semarang (25/12). Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Tengah (Jateng) menghelat webinar nasional bertema ‘Pemberdayaan Keluarga dalam Mencetak Generasi Unggul’, di Semarang, pada Sabtu (24/12).
Ketua DPW LDII Jateng Singgih Tri Sulistiyono mengatakan, webinar ini merupakan kontribusi DPW LDII dalam membangun generasi penerus bangsa. Tema yang diambil, merupakan salah satu program unggulan LDII Jateng, “Lebih mengedepankan peran wanita dalam mencetak generasi unggul, agar mampu menjadi tulang punggung masyarakat, bangsa dan negara. Terutama Indonesia Emas 2045 mendatang,” ujarnya.
Menurutnya, dalam masyarakat Islam, keluarga menjadi tulang punggung andalan atau tiang penyangga bagi keberlangsungan negara. Menilik perjalanan krisis yang dihadapi baik dari masa penjajahan, era kemerdekaan, hingga krisis moneter 1998, juga mengacu adanya perubahan orientasi keluarga. Dalam masyarakat yang liberal sifat individual sering dikedepankan. Sebaliknya dalam masyarakat Islam seperti di Indonesia, semangat saling menolong itu lebih dikedepankan.
“Keluarga memiliki peran penting untuk menghindari disintegrasi bangsa. Bumper-nya ada dalam kehidupan keluarga yang saling menolong. Semangat memiliki orientasi agama itu harus dijiwai dalam keluarga,” ujar Singgih.

Mencetak generasi unggul adalah salah satu peran keluarga. Oleh karena perubahan teknologi yang cepat, cara berpikir keluarga perlu bergerak dalam satu pemikiran yakni mempertahankan nilai agama. Apalagi hidup dalam era digital yang super cepat. “Inilah tantangan yang dihadapi keluarga, terutama peran ibu. Jika disiapkan matang dalam menghadapi bonus demografi, maka hasilnya luar biasa,” kata Singgih.
Dengan melibatkan seluruh stakeholder dalam perencanaan dan pemberdayaan keluarga, ia berharap pemerintah tergugah melaksanakan gerakan sosial membangun generasi unggul di era digital.
Sementara itu Netti Herawati mengatakan, membangun ketahanan keluarga, pertama keluarga harus membuat emosi positif, terutama pada ibu hamil. “Karena orang hamil harus orang yang memiliki kedewasaan, jangan sampai mudah baper,” katanya.
Kedua, bagaimana keluarga membuat kurikulum trimester pertama kehamilan. Ia menyarankan, pastikan tidak ada keributan dalam internal keluarga. Karena bayi juga memiliki kemampuan merekam lingkungannya sejak dalam kandungan.
Netti menegaskan, dalam 1.000 hari perkembangan kehamilan, para orang tua dan juga keluarga yang di sekitarnya turut menjaga. Merujuk surat Al Mukminun ayat 12-14, bahwa pada saat Allah meniupkan roh ke dalam janin, calon ibu jangan menunda memeriksa kehamilan. “Jika sudah diperiksa dan saat itu dipastikan janinnya sehat, para ibu dan ayah agar berdoa sebanyak mungkin sehingga takdir dan tumbuh kembang yang baik mengiringi,” ujarnya.
Dari segi neurosains, Netti mengatakan, janin telah menggunakan indra pengecapan, penciuman, serta pendengaran sejak itu. “Karena itu yang sedang hamil perlu membangun pola makan yg baik. Pilih makanan yang baik. Banyak mendengarkan bacaan surat atau ucapan baik, agar apa yang direkam janin menjadi hal baik kemudian hari,” kata Netti.
Direktur Bina Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana(BKKBN) Safrina Salim mengatakan, pemberdayaan keluarga dalam mencetak generasi penerus yang unggul itu dengan memperkuat pengasuhan dalam lingkup keluarga.
Menurutnya, permasalahan stunting, tingginya angka kematian ibu dan bayi, program keluarga bencana, merupakan tugas BKKBN untuk mengawal. Peran lebih jauh adalah mengawasi siklus kehidupan. “Sehingga nantinya mampu menopang bonus demografi pada 2045,” ujarnya.
BKKBN bersama stakeholder lain memiliki strategi perencanaan sejak dari calon pengantin. Sebab indikator negatif kesiapan menjadi calon pengantin dapat muncul dan mampu mempengaruhi orang tersebut.
Calon pengantin laki-laki juga perlu menjaga pola hidup sehat dan memiliki gizi yang baik, agar tidak mengganggu proses pembuahan nantinya. Ia mengimbau, usia calon ibu di atas 21 tahun, calon pria di atas 25 tahun ditinjau dari sisi kesehatan.
“Di bawah umur itu merupakan usia rawan dalam masa kehamilan,” ujarnya. Apalagi, ia menambahkan resiko terjadi kanker serviks. Ini yang menyebabkan angka kematian ibu tinggi.

1 Comment
[…] Sidoarjo (25/12). Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menghelat musyawarah finalisasi program kerja (proker) tahun 2023. Acara tersebut diselenggarakan di Hotel Neo+ Waru, Sidoarjo, pada Sabtu (24/12). […]