Investasi Waktu: Memaknai ‘Lima Perkara’ Sebelum Datang Penyesalan
Oleh: Asyhari Eko Prayitno, Sekretaris LDII Kota Kediri (Investasi Waktu: Memaknai ‘Lima Perkara’ Sebelum Datang Penyesalan)
Dalam perjalanan hidup manusia, sering kali kita terjebak dalam pemahaman bahwa aset berharga adalah sesuatu yang bisa ditumpuk dalam bentuk materi. Padahal, modal utama yang paling jujur namun paling sering diabaikan adalah waktu. Berbeda dengan harta yang bisa dicari kembali saat hilang, waktu yang telah berlalu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak memiliki tombol putar ulang.
Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik telah memberikan panduan manajemen hidup yang luar biasa dalam sebuah hadis masyhur:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ * رواه الحاكم في المستدرك عن ابن عباس
Artinya : Rasulullah ﷺ bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, waktu luangmu sebelum datang sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.”
Nasihat ini bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah strategi hidup agar kita tidak jatuh ke dalam jurang penyesalan yang abadi.
Pertama, Masa muda dan kesehatan adalah dua nikmat yang sering kali “menipu”. Saat energi, kecerdasan, dan semangat berada di puncak, banyak dari kita yang menunda amal dengan alasan “nanti saja kalau sudah tua”. Padahal, masa muda adalah masa emas untuk menuntut ilmu, menghafal Al-Qur’an, dan berdakwah.
Begitu pula dengan kesehatan. Saat raga masih bugar, kaki masih ringan melangkah ke masjid, dan lisan lancar membaca Al-Qur’an, itulah saat terbaik untuk menabung amal. Sebab, ketika sakit datang, jangankan amal besar, untuk duduk dengan tenang pun terasa sulit. Sebagaimana sabda Nabi SAW, kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya (HR. Bukhari).
Kekayaan sering kali dipandang sebagai kenyamanan, padahal ia adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban. Menggunakan harta untuk sedekah, membangun masjid, atau mendukung dakwah adalah cara “memindahkan” aset dunia menjadi aset akhirat. Jangan menunggu miskin untuk berbagi, karena saat itu kemampuan sudah tiada meski keinginan membumbung tinggi.
Sama halnya dengan waktu luang. Di antara kesibukan duniawi, momen luang adalah celah untuk berdzikir dan refleksi. Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu dalam surah Al-Ashr untuk mengingatkan bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian jika tidak mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, dan saling menasihati.
Dunia adalah ladang amal, sementara akhirat adalah tempat panen. Kematian adalah kepastian yang memutus segala angan-angan.
Kita harus jujur bertanya pada diri sendiri: Jika hari ini adalah hari terakhir kita, sudahkah shalat kita khusyuk? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua? Sudahkah kita bertaubat? Jangan sampai kita menjadi golongan yang memohon dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh saat ajal sudah menjemput, sebagaimana yang diperingatkan dalam QS. Al-Mu’minun: 99–100.
Hidup ini singkat dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Jangan tunda taubat, jangan tunda kebaikan, dan jangan tunda amal. Mari kita tata kembali prioritas hidup kita. Kejarlah dunia seperlunya, namun kejarlah akhirat seolah-olah kita akan wafat esok pagi.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjadi hamba-hamba yang pandai memanfaatkan waktu dan kesempatan sebelum semuanya dicabut dan menjadi sisa penyesalan.
