Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
June 21, 2026
Daerah Dakwah Nasihat

Jaga Identitas Budaya, Pengajian Pemuda LDII Kota Kediri Tekankan Pelestarian Bahasa Jawa Krama

  • June 21, 2026
  • 3 min read
  • 3 Views
Jaga Identitas Budaya, Pengajian Pemuda LDII Kota Kediri Tekankan Pelestarian Bahasa Jawa Krama

Kediri (21/6). Sebagai upaya menjaga identitas budaya, Pemuda LDII Kota Kediri menekankan pentingnya pelestarian bahasa Jawa krama di kalangan generasi muda. Hal tersebut diwujudkan dalam gelaran Pengajian Pemuda LDII Kota Kediri yang digelar di Pondok Kresek, Kota Kediri, pada Minggu (21/6).

Kegiatan yang dipandu oleh Ustaz Zainul Arifin tersebut diikuti ratusan generasi penerus (generus) yang hadir dengan berpakaian batik. Pengajian mengangkat tema “Ngrumat basa, nguri-nguri tata krama” yang bermakna memelihara bahasa dan melestarikan tata krama.

Dalam pemaparanya, Ustaz Arifin mengingatkan bahwa generasi penerus, khususnya yang berlatar budaya Jawa, tidak boleh melupakan identitas dan budaya Jawa yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

“Generasi muda diharapkan mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik, terutama saat berbicara dengan orang yang lebih tua,” ujar Ustaz Arifin.

Ia menjelaskan, kemampuan berbahasa Jawa akan sangat bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih ketika generasi muda kelak sudah berumah tangga. Namun demikian, ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak memaksakan diri menggunakan bahasa Jawa apabila belum menguasainya dengan baik.

“Apabila belum mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar, lebih baik menggunakan bahasa Indonesia yang sopan daripada menggunakan bahasa Jawa secara kurang tepat,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Ustaz Arifin juga menjelaskan bahwa dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan bahasa atau unggah-ungguh basa, yaitu basa ngoko dan basa krama.

“Basa ngoko digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya atau orang yang usianya sama. Ngoko lugu menggunakan kosakata dasar tanpa disertai kata-kata yang lebih halus, sedangkan ngoko alus menggunakan beberapa sisipan kosakata krama agar terdengar lebih sopan,” jelas Ustaz Arifin.

Sementara itu, basa krama merupakan bahasa yang lebih sopan dan halus yang digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang baru dikenal. Basa krama, menurutnya, juga terbagi menjadi dua, yaitu krama lugu (krama madya) dan krama alus (krama inggil).

“Selain menjaga penggunaan bahasa, masyarakat Jawa juga menjunjung tinggi tata krama terhadap orang yang lebih tua, seperti menggunakan bahasa krama saat berbicara, tidak memotong pembicaraan, membungkukkan badan sedikit sambil menurunkan satu tangan ketika melewati orang yang lebih tua, serta duduk pada posisi yang lebih rendah sebagai bentuk penghormatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat Jawa juga perlu menghindari tatapan yang terlalu tajam dan menerapkan sikap andhap asor, yaitu rendah hati dan menghormati orang lain.

“Mencium tangan saat bersalaman, mendahulukan atau mempersilakan orang yang lebih tua, serta memiliki sikap ewuh pakewuh, yaitu rasa sungkan dan segan untuk menolak orang tua secara kasar, juga menjadi bagian penting dari tata krama dalam budaya Jawa,” jelas Ustaz Arifin.

Melalui pemaparan tersebut, Ustaz Arifin berharap generasi penerus dapat memelihara bahasa dan melestarikan tata krama, sehingga identitas budaya Jawa tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *