Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
May 13, 2026
Provinsi

Kodam V/Brawijaya Berikan Pembekalan Wawasan Kebangsaan kepada Santri Ponpes Al-Ubaidah

  • November 16, 2025
  • 3 min read
  • 92 Views
Kodam V/Brawijaya Berikan Pembekalan Wawasan Kebangsaan kepada Santri Ponpes Al-Ubaidah

Nganjuk, (15/11). Brigjen TNI Singgih Pambudi Arianto, Kapoksahli Pangdam V/Brawijaya, melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Al-Ubaidah di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, pada Jumat (14/11). Tujuan utama kunjungan ini adalah memberikan pemahaman tentang wawasan kebangsaan kepada para santri dan pengurus pesantren, serta menanamkan nilai-nilai toleransi dalam menghadapi keberagaman budaya dan latar belakang.

Dalam pemaparannya, Brigjen Singgih menekankan bahwa keberagaman merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia. Ia menyampaikan bahwa perbedaan dalam suku, budaya, bahasa, dan agama bukanlah ancaman, melainkan aset penting untuk memperkuat persatuan nasional.

“Keberagaman terlihat jelas dari semangat para pemuda dari berbagai daerah yang datang untuk menuntut ilmu. Semangat ini menjadi bagian dari solusi atas tantangan kebangsaan yang kita hadapi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberagaman harus menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk belajar, bekerja sama, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Brigjen Singgih juga menyoroti pentingnya pendidikan yang berkualitas, yang harus disertai dengan kemampuan bersosialisasi, memahami perbedaan, dan membangun kolaborasi. Menurutnya, generasi muda yang mampu beradaptasi akan sukses secara pribadi dan turut memperkuat persatuan bangsa.

Ia menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi toleransi. Kesadaran dalam menjalankan ajaran agama secara mendalam dan menghargai keyakinan orang lain akan membentuk santri yang toleran. Sikap ini perlu ditanamkan sejak dini agar mereka siap menghadapi keberagaman.

Brigjen Singgih juga berpesan agar para santri tetap istiqomah saat kembali ke masyarakat. “Konsistensi dalam mengamalkan nilai-nilai pesantren adalah tantangan tersendiri. Namun, dengan mengingat nasihat para guru, insyaallah santri bisa tetap teguh dan tidak terpengaruh budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai pesantren,” tuturnya.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Al-Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, menjelaskan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri agar mencintai tanah air dan memahami nilai-nilai Pancasila. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak hanya melalui teori, tetapi juga praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Santri didorong untuk berkontribusi dalam masyarakat melalui kegiatan sosial, pengabdian, dan penerapan ilmu yang mereka pelajari. Mereka diharapkan mampu mengamalkan ilmu agama dan sosial secara bersamaan,” jelas Habib Ubaid.

Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan santri di era digital, di mana informasi negatif dan hoaks mudah tersebar. Pesantren membekali santri agar lebih cerdas, kritis, dan bijak dalam menyaring informasi.

“Kami memberikan pembekalan dan contoh nyata dari media, baik yang positif maupun negatif, agar santri bisa meneladani hal baik dan menghindari yang buruk, serta menyadari konsekuensi dari setiap tindakan,” tambahnya.

Kegiatan pembekalan dari Pangdam Brawijaya ini dinilai sebagai bentuk sinergi antara TNI dan pesantren dalam membina karakter santri. Kegiatan ini tidak hanya bersifat formal, tetapi juga memberikan manfaat nyata.

“Pembekalan seperti ini sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan kondisi terkini, agar wawasan kebangsaan yang diberikan relevan dan bisa diterapkan dalam kehidupan. Sinergi ini diharapkan melahirkan generasi santri yang berakhlak, cerdas, dan peduli terhadap bangsa,” pungkas Habib Ubaid.

Ketua DPW LDII Jawa Timur yang turut hadir juga menekankan pentingnya pembekalan wawasan kebangsaan bagi santri. Ia menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk, dan santri harus siap menghadapi perbedaan budaya, bahasa, dan agama saat terjun ke masyarakat.

“Pembekalan ini penting agar santri memiliki pandangan yang sama sebagai bagian dari bangsa Indonesia, dengan semangat menjaga keutuhan NKRI. Dakwah yang sejuk juga penting untuk mencegah gesekan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun santri berasal dari latar belakang yang berbeda, pesantren menjadi tempat pemersatu melalui pendidikan Islam. “Perbedaan bahasa dan perilaku adalah hal wajar. Dengan tinggal di pesantren dan mempelajari Al-Qur’an serta sunnah Rasulullah SAW, santri belajar menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di Indonesia,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *