LDII Tegaskan Dampak Krisis yang Sebabkan Hancurnya Umat Manusia
LDII Tegaskan Dampak Krisis yang Sebabkan Hancurnya Umat Manusia
Jakarta (11/01). Terpecahnya Eropa akibat Perang Rusia dan Ukraina, bukan hanya berdampak krisis ekonomi dan energi. Namun juga krisis ekologi, yang diakibatkan penggunaan kembali batu bara dan minyak bumi. Padahal sebelum terjadinya perang tersebut, Eropa sedang menaikkan penggunaan energi bersih yang diunjang dengan gas.
“Gas yang langka dapat menyebabkan terjadinya inflasi, sehingga energi batu bara kembali difungsikan. Komitmen dunia untuk menggunakan energi bersih ditunda lagi, demikian pula negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Negara di Eropa mengawali net zero emission ditunjang dengan gas, kini sudah beralih ke energi batu bara lagi,” papar Ketum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.
Dampaknya juga ke Indonesia, begitu menurut KH Chriswanto. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga batu bara, juga menyebabkan eksplorasi batu bara yang semakin meningkat, “Hutan kita yang akan jadi korban. Kerusakan hutan menyebabkan krisis air dan udara yang steril, kemudian efek rumah kaca. Perlahan tapi pasti Menyebabkan kehancuran umat manusia,” jelasnya.
Ia mengajak penduduk Indonesia di momentum Hari Gerakan Satu Juta Pohon, pada 10 Januari, untuk bergotong-royong kembali menghijaukan Indonesia. Menurutnya kebijakan yang diprakarsai Presiden Suharto pada 10 Januari 1993 tersebut, supaya setiap provinsi menanam sejuta pohon, masih sangat strategis untuk diterapkan sekarang.
Menurutnya, semenjak tahun 2008, LDII telah mencanangkan program penghijauan yang bertemakan Go Green, “Sudah sekitar 4 juta pohon yang ditanam warga LDII di pegunungan, lahan kritis, hingga pesisir pantai, yaitu dengan menjalin MoU bersama pemerintah dan stakeholder,” ujarnya.

Bagi DPP LDII, gerakan Go Green bukanlah sekadar peduli lingkungan atau mencegah terjadinya kiamat dini akibat prilaku merusaknya umat manusia, melainkan lebih pada nilai ibadah, “Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda tidaklah seorang muslim menanam pohon atau tanaman, lalu tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan menjadi sedekah untuknya,” ujar KH Chriswanto.
Artinya, rakyat Indonesia dengan mempunyai kebijakan menanam pohon, itu dapat mencegah krisis ekologi. Sebagai sumber dari kehidupan, satu batang pohon dapat menghasilkan 130 kg oksigen. Selain itu, ekosistem menjadi pulih lagi sebab cadangan air aman dan udara bersih lagi, “Pohon bukan hanya sumber kehidupan makhluk, namun juga sebagai penghidupannya. Dengan sistem tebang tanam yang bagus, bangsa Indonesia dapat menjadi pemasok kayu di dunia. Baik dalam kelas industri maupun UMKM,” ungkapnya. Dengan begitu industrialisasi dapat aktif, yang bisa menyerap tenaga kerja.
Menurut pendapatnya, LDII di tahun 2023 akan terus meneruskan program kerja yang berkelanjutan, diantaranya adalah merawat lingkungan hidup, “Kami aktif dalam World Clean-up Day, lalu kami ikut berkontribusi dalam Hari Menanam Pohon yang dilaksanakan sepanjang November,” ujarnya.
Ia mengucapkan bahwa program penghijauan itu juga didukung dengan zero waste, yang telah diujicobakan di beberapa pesantren LDII secara berkesinambungan. Kemudian sosialisasi tentang sadar lingkungan juga akan diterapkan di tingkat keluarga, “Semua dikerjakan secara bertahap dan berkelanjutan. Lingkungan yang baik memungkinkan manusia dapat hidup nyaman,” tutupnya.
Sementara itu, Koordinator Bidang Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII Sudarsono menjelaskan, tentang dukungan “Hari Gerakan Satu Juta Pohon”, pada tanggal 10 Januari 2023, sekaligus mendukung low carbon society, DPP LDII mecantumkannya ke dalam Program Kampung Iklim (Proklim) 2023.
Menurutnya, Bidang LISDAL merencanakan acara soft-launching penanaman pohon bernilai ekonomi (pohon buah-buahan) dan mempunyai fungsi konservasi secara berkesinambungan. “Di awal bulan Februari 2023, Soft-launching akan dilakukan di sekitar lokasi Kebun Teh Jamus, Ngawi, Jawa Timur. Sebagai tindakan awal, 1.000 pohon buah alpukat ditanam di perkebunan teh Jamus sebagai tanaman bernilai ekonomi juga mempunyai fungsi ganda yaitu konservasi,” jelasnya.
Guru Besar Pertanian IPB itu menambahkan bahwa pohon buah alpukat telah tumbuh baik di Kebun Teh Jamus, “Sehingga ke depan dapat memberikan nilai ekonomis untuk masyarakat di sekitar kebun dan meningkatkan kemakmuran masyarakat,” imbuhnya.
Sudarsono melanjutkan, selain menanam pohon bernilai ekonomi dan mempunyai fungsi ganda konservasi, juga akan dilaksanakan penanaman pohon-pohon endemik di sekitar lokasi sumber air (Mata Air Sumber Lanang) Jamus. “Diharapkan bisa menjaga keberlangsungan mata air yang telah difungsikan sebagai penggerak Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan mewujudkan arboretum konservasi tanaman obat dan fitofarmaka di sekitar lokasi itu,” jelasnya.
Ia juga mendorong DPW LDII, DPD LDII Kab/kota seluruh Indonesia ikut berperan secara aktif dalam memberikan dukungan “Hari Gerakan Satu Juta Pohon” yang dicanangkan pada tanggal 10 Januari 2023, “Serta mendukung terciptanya low carbon society khususnya di lingkungan warga LDII,” pungkasnya.

1 Comment
[…] Klaten (11/01) Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Karangdowo melaksanakan kunjungan ke Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Karangdowo, pada Rabu (11/01). […]