Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
May 3, 2026
Dakwah Nasihat Psikologi

Lisan: Anggota Tubuh yang Ringan Digerakkan, Namun Berat Timbangannya

  • February 13, 2026
  • 3 min read
  • 39 Views
Lisan: Anggota Tubuh yang Ringan Digerakkan, Namun Berat Timbangannya

Oleh: Asyhari Eko Prayitno, Sekretaris DPD LDII Kota Kediri

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali memberikan perhatian lebih pada dosa-dosa besar yang tampak secara fisik. Namun, ada satu anggota tubuh yang sering luput dari pengawasan kita, padahal ia bisa menjadi pintu tercepat menuju surga atau justru jurang terdalam menuju neraka. Itulah lisan.

Lisan adalah nikmat luar biasa. Dengannya kita berdzikir, menuntut ilmu, dan merajut silaturahmi. Namun, ia ibarat pedang bermata dua; anggota tubuh paling ringan digerakkan, namun dampaknya bisa sangat berat, baik di dunia maupun di timbangan akhirat kelak.

Menjaga lisan bukan sekadar soal etika atau kesopanan sosial, melainkan bagian integral dari iman. Rasulullah SAW telah memberikan kaidah emas bagi setiap mukmin: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa diam bukan berarti pasif, melainkan sebuah bentuk ibadah jika dilakukan untuk menghindari ucapan yang tidak mengandung kebaikan. Islam mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari kekhusyukan ibadahnya, tetapi juga dari seberapa aman orang lain dari gangguan lisan dan tangannya.

Seringkali kita meremehkan satu atau dua patah kata yang keluar begitu saja. Padahal, satu kalimat yang diridhai Allah bisa mengangkat derajat seseorang setinggi langit, sementara satu kalimat yang dimurkai Allah—meski dianggap sepele—bisa menjatuhkan seseorang ke dasar neraka (HR. Bukhari).

Hal ini dipertegas dengan peringatan keras mengenai bahaya ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Allah SWT mengibaratkan orang yang menggunjing seperti memakan bangkai saudaranya sendiri (QS. Al-Hujurat: 12). Sementara bagi pelaku adu domba, ancamannya sangat nyata: tidak akan masuk surga (HR. Bukhari & Muslim).

Kesadaran akan adanya pengawasan ilahi adalah kunci utama dalam menjaga lisan. Dalam QS. Qaf: 18, Allah mengingatkan bahwa tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat pengawas (Raqib dan Atid) yang selalu siap mencatat. Tidak ada kata yang “hanya bercanda” atau “refleks emosi” yang terlewat dari catatan tersebut. Semua akan dibuka kembali saat hari perhitungan nanti.

Ulama pernah berpesan: “Lisan orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lisannya.” Ini berarti, orang beriman akan berpikir mendalam sebelum berbicara, bukan sebaliknya.

Untuk menjaga lisan di era informasi yang begitu cepat ini, ada beberapa langkah praktis yang bisa kita terapkan:

  1. Berpikir Sebelum Berbicara: Selalu tanyakan, apakah ucapan ini benar, bermanfaat, atau justru menyakiti?
  2. Diam saat Ragu atau Marah: Jika ragu akan kebenaran sebuah kabar (hoaks) atau sedang dikuasai amarah, diam adalah pilihan yang jauh lebih mulia.
  3. Membasahi Lisan dengan Zikir: Gantikan kebiasaan berbicara sia-sia dengan istighfar, shalawat, dan tilawah Al-Qur’an agar lisan terbiasa mengeluarkan energi positif.

Saudaraku, luka karena pisau mungkin bisa sembuh dengan waktu, namun luka karena lisan sering kali dibawa sampai mati. Jangan sampai kita menjadi orang yang “bangkrut” di akhirat; rajin shalat dan puasa, namun pahalanya habis tergerus karena sering menyakiti hati sesama dengan ucapan.

Mari kita jaga lisan kita. Kecil bentuknya, namun besar hisabnya. Semoga Allah menjadikan lisan kita basah dengan dzikir, lembut dalam berbicara, dan selamat dari fitnah dunia maupun akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *