Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
August 23, 2026
Daerah Nasihat

Pengajian Rutin LDII Kota Kediri Kupas Hikmah Surat Al-A’raf dan Pentingnya Syukur dalam Kehidupan

  • August 8, 2026
  • 4 min read
  • 33 Views
Pengajian Rutin LDII Kota Kediri Kupas Hikmah Surat Al-A’raf dan Pentingnya Syukur dalam Kehidupan

Kediri (8/8). Warga LDII Kota Kediri mengikuti Pengajian Rutin yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Kota Kediri, pada Sabtu (8/8). Pengajian kali ini diisi kajian Al-Qur’an yang dibawakan oleh Sekretaris LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, serta nasihat pemantapan agama oleh Dewan Penasihat (Wanhat) LDII Kota Kediri, H. Agus Faisol.

Dalam sesi kajian Al-Qur’an, Asyhari Eko Prayitno menyampaikan bacaan dan tafsir Surat Al-A’raf ayat 191–200. Rangkaian ayat tersebut mengandung pesan yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun keimanan yang rasional dan kokoh.

Salah satu hikmah utama yang disampaikan adalah ajakan Allah kepada orang-orang musyrik Quraisy untuk berpikir secara rasional. Asyhari menyampaikan, bagaimana mungkin seseorang menyembah berhala yang tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak mampu memberi manfaat, bahkan tidak sanggup menolong dirinya sendiri? Allah ﷻ mengajak manusia merenungkan ketidakmasukakalan tersebut.

“Allah satu-satunya Tuhan dan penolong sejati. Ketika manusia menghadapi kesulitan, hanya kepada-Nya tempat berlindung dan meminta pertolongan, karena tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kuasa untuk memberikan pertolongan sejati selain Allah,” jelas Asyhari Eko.

Ia melanjutkan, ayat-ayat ini menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa berlindung kepada Allah dari godaan setan, memilih jalan maaf dan kebaikan dalam bermuamalah, serta menghindari sikap jahil dalam menghadapi provokasi orang lain.

Peserta Pengajian Rutin warga LDII Kota Kediri, di Ponpes Nurul Huda Al Manshurin, Kota Kediri (8/8).

Sementara itu, H. Agus Faisol, dalam tausiyahnya mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat sehat dan hidayah yang telah diberikan. Menurutnya, semua itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan semata-mata keagungan dan kehendak Allah. Siapa yang diberi nikmat, kapan nikmat itu diberikan, dan kapan pula nikmat itu dicabut, semuanya adalah kuasa Allah.

“Nikmat sehat, aman, dan hidayah yang kita rasakan hari ini adalah anugerah yang luar biasa. Kita tidak punya kuasa apa pun atas datang dan perginya nikmat itu. Maka sudah seharusnya kita memuji dan bersyukur hanya kepada Allah,” ujar H. Agus Faisol.

Ia mengingatkan bahwa seringkali manusia menganggap remeh nikmat yang ada, bahkan merasa nikmat tersebut belum sempurna. Namun ketika nikmat itu dicabut oleh Allah, barulah terasa betapa mahalnya.

“Waktu tidak bisa diputar kembali, dan penyesalan tidak akan mengubah keadaan. Oleh karena itu, kita perlu melatih diri untuk bersyukur sejak sekarang, karena dengan syukur ibadah akan terasa lebih nikmat, lebih lancar, dan berujung pada husnul khatimah,” terang H. Agus Faisol.

H. Agus kemudian mengutip firman Allah ﷻ dalam Surat Ibrahim ayat 7:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Ia juga menyampaikan, manfaat syukur tidak hanya dirasakan secara spiritual, tetapi juga berdampak nyata pada kesehatan fisik dan mental. Ia mengutip hasil penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa kebiasaan bersyukur memberikan pengaruh positif pada hormon dalam tubuh manusia, sehingga bisa lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih tahan akan tekanan hidup.

“Bersyukur bukan hanya soal ibadah, tetapi juga soal kesehatan. Sains pun membuktikan bahwa hati yang bersyukur melahirkan tubuh yang lebih sehat dan pikiran yang lebih tenang,” ungkapnya.

Pada bagian akhir tausiyahnya, H. Agus Faisol membahas larangan menampakkan aurat dan kewajiban berpakaian secara syar’i. Ia menekankan, fenomena berpakaian namun hakikatnya telanjang merupakan perbuatan yang dilarang keras dalam Islam dan menjadi salah satu tanda kemerosotan akhlak di akhir zaman.

“Berpakaian tapi telanjang bukan hanya soal mode atau tren. Ini adalah peringatan serius dari Nabi Muhammad ﷺ yang wajib kita renungkan bersama,” tegasnya.

H. Agus kemudian menyampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, di mana Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang dua golongan penghuni neraka yang belum pernah beliau saksikan:

“Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi, yang mereka pakai untuk mencambuk manusia. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan bahu dan punggungnya, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Melalui pengajian rutin ini, LDII Kota Kediri berharap setiap materi yang disampaikan tidak hanya berhenti di masjid atau pondok pesantren, tetapi mampu meresap ke dalam keseharian jamaah sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih bermakna, penuh syukur, dan senantiasa dalam lindungan Allah ﷻ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *