Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 19, 2026
Dakwah Nasihat Pendidikan

Hidayah adalah Nikmat “Paling Pol” yang Tak Ternilai Harganya

  • February 24, 2026
  • 4 min read
  • 44 Views
Hidayah adalah Nikmat “Paling Pol” yang Tak Ternilai Harganya

Oleh: Asyhari Eko Prayitno (Sekretaris DPD LDII Kota Kediri)

Di antara jutaan nikmat yang Allah SWT hamparkan bagi umat manusia—mulai dari detak jantung hingga luasnya cakrawala—ada satu nikmat yang menduduki kasta tertinggi. Itulah nikmat Rahmat dan Hidayah. Bisa menetapi Agama Islam yang murni, dengan bersandarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, adalah sebuah keberuntungan yang nilainya tak terhingga. Boleh jadi kita menyebutnya sebagai nikmat “paling pol” yang melampaui segala kemewahan duniawi.

Namun, satu hal yang harus kita sadari, bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah. Ia adalah “permata” yang tidak diberikan berdasarkan indikator lahiriah manusia.

Bukan Karena Harta, Jabatan, atau Wajah

Dalam memberikan hidayah, Allah tidak memandang nasab, harta, maupun kehormatan sosial. Allah memberikannya semata-mata kepada hamba yang dicintai-Nya. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

وَإِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ * رواه أحمد

Artinya : “Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai, namun Dia tidak memberikan agama (hidayah) kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka barangsiapa diberikan agama oleh Allah, sungguh Allah telah mencintainya.” (HR. Ahmad)

Bayangkan, jika hidayah diberikan berdasarkan ketampanan wajah, kekayaan seperti Bill Gates, atau tingginya jabatan, barangkali kita yang sederhana ini tidak akan pernah mendapat bagian. Namun, Allah hanya melihat ke kedalaman hati:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ * رواه مسلم

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Hidayah Itu Mahal: Belajar dari Sejarah

Sejarah para Nabi adalah bukti nyata bahwa kedekatan fisik atau hubungan darah dengan kekasih Allah tidak menjamin seseorang mendapatkan hidayah.

  1. Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth: Meski bersamakan seorang Nabi setiap hari, mereka tetap divonis masuk neraka karena ketiadaan hidayah di hati mereka (QS. At-Tahrim: 10).
  2. Suami Asiyah: Fir’aun adalah suami dari seorang wanita ahli surga, namun kekuasaannya justru membawanya pada kekufuran. (QS At Tahrim 11)
  3. Anak Nabi Nuh: Hubungan ayah-anak tidak mampu menyelamatkan Kan’an dari terjangan banjir besar karena ia memilih jalan kekufuran (QS Hud 42-43)
  4. Ayah Nabi Ibrahim: Azar adalah pelopor penyembah berhala, meskipun anaknya adalah kekasih Allah (Khalilullah). (QS At – Taubah 114)
  5. Paman Nabi Muhammad SAW: Abu Thalib merawat dan melindungi Nabi selama 11 tahun dari kekejaman Quraisy, namun hingga akhir hayatnya, hidayah tidak menyentuh nuraninya. Allah mengingatkan: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُArtinya : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Logika Manusia vs Kehendak Allah

Bahkan, jika secara logika seseorang diperlihatkan keajaiban yang luar biasa sekalipun—melihat malaikat turun atau orang mati bicara—itu tidak akan membuatnya beriman jika Allah belum mengetuk pintu hatinya. Allah berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 111 bahwa meskipun mukjizat itu datang, mereka tidak akan beriman kecuali jika Allah menghendaki.

Kesimpulan: Jaga Hidayah dengan Syukur

Pada intinya, walau seperti apa pun keadaannya, hanyalah Allah yang berkuasa memberikan hidayah.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ * سورة سونس 100

“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah.” (QS. Yunus: 100)

Oleh karena itu, jika hari ini kita masih bisa melangkahkan kaki ke masjid, masih bisa membaca Al-Qur’an, dan masih istiqomah dalam garis iman, maka sadarilah bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih dan dicintai oleh Allah. Tugas kita bukanlah untuk sombong, melainkan menjaga hidayah yang mahal ini dengan penuh rasa syukur dan ketaatan hingga akhir hayat nanti.

hidayah bukanlah sebuah “warisan” yang bisa kita klaim hanya karena garis keturunan atau kedekatan fisik dengan orang-orang saleh. Hidayah adalah murni hak prerogatif Allah SWT yang diberikan kepada hati-hati yang terpilih. Jika hari ini kita masih merasakan nikmatnya beribadah di bawah naungan Al-Qur’an dan Al-Hadits, itu bukan karena kita lebih pintar atau lebih mulia dari mereka yang belum mendapatkannya, melainkan karena Allah sedang menaruh kasih sayang-Nya kepada kita.

Oleh karena itu, jangan pernah merasa aman atau sombong dengan keimanan yang ada saat ini. Mari kita jaga hidayah ini dengan doa yang terus-menerus, istikomah dalam pengajian, dan pengabdian yang tulus kepada masyarakat. Karena pada akhirnya, keberuntungan yang sesungguhnya bukan terletak pada seberapa banyak harta yang kita kumpulkan di dunia, melainkan pada seberapa teguh kita menggenggam hidayah tersebut hingga maut menjemput.

Semoga Allah SWT senantiasa menetapkan hati kita dalam ketaatan dan tidak mencabut hidayah-Nya setelah Dia memberikannya kepada kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *