Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, memberikan pembekalan dalam rangkaian Munas X LDII 2026
Jakarta (9/4). Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, memberikan pembekalan dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Jakarta, pada Kamis (9/4). Dalam paparannya bertajuk “Kebijakan Pendidikan Nasional untuk Mengantisipasi Dinamika Global dan Nasional”, Mendikdasmen menekankan pentingnya membangun peradaban (ta’dib) untuk melahirkan generasi yang kuat di tengah tantangan zaman.
Prof. Abdul Mu’ti menyoroti fenomena anxious generation (generasi cemas) dan ketergantungan digital yang menghantui Generasi Z. Menurutnya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga penguatan karakter melalui 7 kebiasaan anak Indonesia hebat, mulai dari beribadah, berolahraga, hingga gemar belajar.
“Kita diingatkan Allah untuk tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Mukmin yang kuat—baik secara akidah, ilmu, maupun ekonomi, jauh lebih dicintai Allah. LDII memiliki peran strategis untuk membantu pemerintah mengatasi learning loss dan membangun jiwa bangsa melalui institusi pendidikannya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan Indonesia saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan serius, mulai dari keterbatasan akses pendidikan, kesenjangan mutu antarwilayah, hingga dampak perubahan global dan digitalisasi. Ia menyebutkan masih banyak anak Indonesia yang belum mendapatkan hak pendidikan secara optimal akibat faktor ekonomi, geografis, hingga kondisi sosial.
“Kesenjangan kualitas pendidikan juga masih terjadi antara sekolah negeri dan swasta, serta antar wilayah di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menjalankan berbagai program strategis, seperti revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan serta digitalisasi pembelajaran melalui distribusi perangkat interaktif di sekolah-sekolah,” ungkapnya.
Tak hanya fokus pada infrastruktur, pemerintah juga mendorong penguatan karakter peserta didik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, yang meliputi pembiasaan ibadah, olahraga, pola hidup sehat, gemar belajar, hingga bermasyarakat. “Program ini diharapkan mampu menjawab tantangan generasi muda di era digital yang rentan terhadap krisis moral, kecemasan, dan ketergantungan teknologi,” ujarnya.

Materi pembekalan ini disambut optimis oleh delegasi dari Kota Kediri. Ketua LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, menyatakan bahwa visi Mendikdasmen sangat sejalan dengan program pembinaan berkelanjutan yang dijalankan LDII di daerah.
“Kami sangat mengapresiasi kebijakan Bapak Menteri yang menekankan pentingnya membangun karakter dan peradaban. LDII Kota Kediri berkomitmen penuh untuk mengimplementasikan ‘7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat’ ini di setiap satuan pendidikan dan majelis taklim kami. Fokus kami adalah memastikan anak-anak muda di Kediri tumbuh menjadi SDM yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki ketangguhan mental untuk menghadapi masa depan menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Ia menyatakan kesiapan organisasi dalam mendukung kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. “Pembekalan ini memberikan arah yang jelas bahwa pendidikan tidak hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter. LDII Kota Kediri siap berkontribusi dalam mencetak generasi yang berakidah kuat, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, menggarisbawahi poin mengenai bahaya disrupsi digital dan pentingnya penguatan karakter di lingkungan keluarga serta pesantren.
“Apa yang disampaikan Mendikdasmen mengenai fenomena ‘generasi stroberi’ adalah tantangan nyata. LDII Kota Kediri terus berupaya memperkuat ‘kurikulum tersembunyi’ melalui pembiasaan akhlakul karimah di rumah dan sekolah. Kami ingin memastikan kader-kader muda kita memiliki Bashirah (mata batin) yang tajam untuk memfilter informasi global, sehingga mereka kuat secara akidah, mandiri secara ekonomi, dan rukun dalam jamaah. Sinergi antara pendidikan keluarga, masyarakat, dan organisasi adalah kunci utamanya,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun pendidikan yang berkualitas.
“Kami melihat sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi dinamika generasi digital saat ini. LDII akan terus mendorong pendidikan karakter, literasi digital, serta pembiasaan nilai-nilai positif agar generasi muda menjadi tangguh secara mental dan spiritual,” jelasnya.
Melalui pembekalan ini, LDII diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam mendukung pembangunan pendidikan nasional, khususnya dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan karakter, kemandirian ekonomi, serta mampu menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika global.
