Polres Nganjuk Gandeng Calon Muballigh LDII di Ponpes Al Ubaidah Jadi Duta Keselamatan Jalan
Polres Nganjuk Gandeng Calon Muballigh LDII di Ponpes Al Ubaidah Jadi Duta Keselamatan Jalan
Nganjuk (18/1). Polres Nganjuk menggelar sosialisasi tata tertib berlalu lintas pada santri LDII di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, Kertosono, pada Selasa (13/1). Kegiatan ini menyasar ribuan santri yang tengah mengikuti diklat dan tes calon mubalig-mubaligah LDII, yang nantinya akan ditugaskan ke seluruh penjuru Indonesia hingga luar negeri sebagai upaya menekan angka kecelakaan melalui pendekatan edukasi religi.
Pertemuan strategis ini bertujuan membekali para calon dai dengan pemahaman hukum di jalan raya, agar nilai-nilai keselamatan dapat diintegrasikan dalam materi dakwah mereka di tengah masyarakat.
Di hadapan sekitar 1.000 santri, Kanit Kamsel Satlantas Polres Nganjuk, Ipda Dwi Purnomo, memaparkan urgensi pemahaman Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ia menekankan bahwa kecelakaan sering kali terjadi akibat kelalaian yang bisa dihindari.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Ipda Dwi mengungkapkan bahwa terdapat empat faktor utama penyebab kecelakaan, yaitu alam, kendaraan, kondisi jalan, dan manusia. Namun, kontributor terbesar tetaplah faktor manusia (human error) yang mencapai angka 61 persen.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Mengingat tingginya angka kecelakaan akibat faktor kelalaian pengemudi, kami mengajak para santri untuk menjadi pelopor keselamatan, dimulai dari kedisiplinan diri sendiri,” ujar Ipda Dwi.

Polres Nganjuk memberikan pesan khusus kepada para calon muballigh dan muballigat agar nantinya tidak hanya menyampaikan materi fikih atau akhlak saja, tetapi juga menyisipkan pesan keselamatan berlalu lintas dalam setiap ceramah mereka. “Penggunaan helm standar SNI, kepatuhan pada rambu-rambu, hingga kelengkapan surat kendaraan diharapkan menjadi materi “dakwah keselamatan” di tempat tugas masing-masing,” pesannya.
Ipda Dwi juga mengapresiasi karakter santri Ponpes Al Ubaidah yang memiliki kultur saling mengingatkan dalam kebaikan. “Tradisi menegur kesalahan dilakukan dengan cara yang santun (bil ma’ruf), tanpa menyakiti perasaan, baik kepada keluarga maupun jemaah nantinya,” ujarnya.
Meskipun sosialisasi dilaksanakan pada siang hari yang merupakan jam rawan mengantuk, ribuan santri tetap menunjukkan fokus dan semangat yang luar biasa. Ketertarikan para peserta dalam sesi tanya jawab menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya tertib berlalu lintas mulai tumbuh subur di lingkungan pesantren.
“Melihat antusiasme ini, kami optimis para calon dai ini akan menjadi teladan yang baik. Jika para mubalig sudah tertib dan mengajak jemaahnya tertib, maka budaya keselamatan jalan raya di Indonesia akan meningkat secara signifikan,” tambah Ipda Dwi.
Melalui sinergi antara kepolisian dan lembaga pendidikan agama ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga taat pada regulasi negara, demi menjaga keselamatan jiwa sebagai bagian dari prinsip menjaga nyawa (hifzun nafs) dalam agama.
