Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 21, 2026
Daerah Pesantren

Kemenag Nganjuk Bekali Ribuan Calon Muballigh LDII Strategi Dakwah Elegan di Era Digital

  • January 18, 2026
  • 2 min read
  • 40 Views
Kemenag Nganjuk Bekali Ribuan Calon Muballigh LDII Strategi Dakwah Elegan di Era Digital

Nganjuk (18/1). Kemenag Kabupaten Nganjuk memberikan pembekalan pada Calon Muballigh-Muballighat LDII di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, Kertosono, pada Senin (12/1).

Di hadapan ribuan calon dai yang berasal dari berbagai penjuru nusantara, Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk, Sinasan mengatakan menghadapi dinamika masyarakat yang semakin majemuk dan derasnya arus informasi di ruang digital, ia menekankan pentingnya penguatan etika bagi para pendakwah.

“Etika bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama agar pesan agama dapat diterima tanpa menimbulkan gesekan sosial,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa pendekatan yang salah dalam berdakwah dapat berakibat fatal pada misi syiar Islam itu sendiri. Menurutnya, dakwah tanpa etika justru akan membangun tembok pemisah antara pendakwah dan jemaahnya (mad’u).

“Etika dakwah itu sangat krusial. Tanpa etika, seorang dai yang niatnya merangkul justru bisa ‘mendengkul’ (menyepak), yang ingin menarik hati justru malah menyakiti. Dakwah bukan hanya soal menyampaikan kebenaran tekstual, tetapi tentang bagaimana pendekatan tersebut dilakukan secara manusiawi dan bijaksana,” papar Sinasan.

Tantangan dakwah saat ini diakui jauh lebih kompleks dibandingkan dua hingga tiga dekade lalu. Kehadiran media sosial yang sulit dikontrol menuntut para calon mubalig untuk lebih kreatif dan memiliki “siasat” yang tepat agar pesan-pesan kesejukan tetap sampai kepada generasi milenial dan Gen Z.

Kemenag Nganjuk Bekali Ribuan Calon Muballigh LDII Strategi Dakwah Elegan di Era Digital
Kemenag Nganjuk Bekali Ribuan Calon Muballigh LDII Strategi Dakwah Elegan di Era Digital

Sinasan mengingatkan agar para dai tetap teguh memegang prinsip al-Qur’an sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl: berdakwah secara bil hikmah (bijaksana), wal mauidzatil hasanah (nasihat yang baik), serta wajadilhum billati hiya ahsan (berdiskusi dengan cara yang paling baik). Pendekatan ini harus disesuaikan dengan kondisi psikologis masyarakat yang sangat beragam.

Usai sesi pembekalan, Sinasan memberikan apresiasi terhadap kualitas karakter para santri di Ponpes Al Ubaidah. Ia mengaku terkesan dengan budaya sami’na wa atha’na (mendengar dan taat) yang dipraktikkan ribuan santri selama kegiatan berlangsung.

“Masya Allah, luar biasa. Saya melihat kedisiplinan generasi muda di sini sangat menonjol. Meski jumlahnya ribuan, suasana tetap kondusif; tidak ada kebisingan, semua menyimak dengan saksama. Ini adalah modal besar untuk melahirkan mubaligh yang tidak hanya berilmu tinggi, tapi juga memiliki akhlakul karimah dan etika yang kuat,” tuturnya.

Melalui diklat ini, diharapkan para lulusan Ponpes Al Ubaidah siap terjun ke masyarakat sebagai agen perubahan yang mampu membawa kedamaian, menyebarkan toleransi, dan memberikan solusi keagamaan yang elegan di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *