Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
May 25, 2026
Dakwah Nasihat

Refleksi Kehidupan: Menata Tujuan Dunia untuk Keselamatan Akhirat

  • January 18, 2026
  • 3 min read
  • 144 Views
Refleksi Kehidupan: Menata Tujuan Dunia untuk Keselamatan Akhirat

Kediri (10/1). Wakil Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, Agus Dwi Suparyanto, menyampaikan tausiyah pada Jumat, (9/1), yang menekankan pentingnya menetapkan satu tujuan hidup, yakni meraih surga Allah serta terhindar dari siksa neraka. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar senantiasa menjaga keimanan dan tidak menyimpang dari tujuan akhir kehidupan.

Dalam penyampaiannya, Agus menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah fase singkat dalam perjalanan manusia. Sekalipun seseorang dikaruniai usia panjang, masa hidup di dunia tetaplah sangat terbatas bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang abadi. Pada akhirnya, manusia hanya akan menuju dua tempat, yaitu surga yang penuh kenikmatan atau neraka yang sarat dengan penderitaan.

“Sebagai manusia yang dianugerahi akal sehat, tentu pilihan terbaik adalah surga Allah. Namun untuk mencapainya dibutuhkan kesungguhan dan perjuangan, sebab jalan menuju ke sana tidak lepas dari berbagai godaan,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa iblis dan setan telah bertekad menyesatkan manusia dari segala arah agar berpaling dari ketaatan kepada Allah. Meski demikian, jamaah diajak untuk bersyukur karena telah berada di jalan yang benar, sekaligus terus menjaga kewaspadaan agar tetap istiqamah di atasnya.

Menjaga keimanan, lanjutnya, membutuhkan usaha yang berkelanjutan. Salah satunya dengan membiasakan diri menghadiri majelis ilmu, mengikuti pengajian, serta mendengarkan nasihat agama. Aktivitas tersebut menjadi sarana penting dalam memperkuat iman dan menambah pemahaman keislaman agar tidak mudah terpengaruh oleh rayuan dunia.

Selain ikhtiar melalui ilmu, doa juga memiliki peran yang sangat vital. Agus mengingatkan bahwa iman adalah sesuatu yang sangat rapuh dan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Oleh karena itu, jamaah dianjurkan untuk senantiasa memohon keteguhan hati melalui doa:

“Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā ṭā‘atik.”

Doa tersebut dianjurkan untuk dibiasakan, khususnya setelah menunaikan shalat fardhu. Jamaah juga diajak memperbanyak doa sapu jagad sebagai permohonan kebaikan dunia dan akhirat, dengan tetap menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Dalam tausiyahnya, ia turut mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ketentuan Allah. Ketika memperoleh nikmat, hendaknya disyukuri. Saat terjatuh dalam kesalahan, wajib segera bertaubat. Dan ketika ditimpa ujian atau musibah, diperlukan kesabaran serta mengucap istirja’.

Agus menekankan pentingnya memiliki amalan andalan sebagai bekal kehidupan. Hal ini dicontohkan melalui kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua dan akhirnya diselamatkan oleh Allah berkat amalan andalan yang mereka miliki.

Amalan andalan tersebut dapat berupa kebiasaan ibadah yang dilakukan secara rutin dan istiqamah, seperti berbakti kepada orang tua, memperbanyak dzikir, serta menjaga ibadah harian. Selain itu, ada pula amalan besar yang mungkin hanya dilakukan sekali, namun membutuhkan pengorbanan dan keikhlasan yang luar biasa.

“Bagi yang belum mampu melakukan amalan besar, jangan merasa kecil hati. Amalan ringan yang dilakukan secara konsisten, seperti istighfar, tasbih, tahmid, dan takbir, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah,” jelasnya.

Ia juga menyinggung keutamaan menjaga wudhu dan mengerjakan shalat sunnah dua rakaat setelah wudhu, sebagaimana teladan Bilal bin Rabah رضي الله عنه, yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai salah satu penghuni surga.

Menutup nasihatnya, Agus Dwi Suparyanto menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam beribadah bukanlah memulai, melainkan menjaga keistiqamahan. Oleh karena itu, jamaah diajak untuk mulai menanamkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *