Bedah Strategi Literasi Keuangan "SMART", LDII Kota Surabaya Gelar Pelatihan Manajemen
Surabaya (18/1). Di tengah derasnya tren gaya hidup konsumtif dan kemudahan akses pinjaman digital, LDII Kota Surabaya menggelar pelatihan manajemen keuangan pada 271 orang remaja. Kegiatan bertajuk penguatan finansial ini digelar di Masjid Nashrullah, Minggu (11/1), sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian generasi muda.
Hadir sebagai narasumber utama, Kepala Wilayah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Rukun Abadi (RA) Jawa Timur, Aminudin, memaparkan cara mengelola keuangan sejak usia dini agar menjadi pondasi karakter yang kokoh di masa depan.
Ia menekankan bahwa literasi keuangan bukan sekadar soal angka, melainkan soal pola pikir (mindset). Ia menengarai bahwa banyak persoalan finansial di masa dewasa berakar dari kebiasaan buruk saat remaja, seperti tidak mencatat pengeluaran dan terjebak dalam perilaku konsumtif demi gengsi.
“Kesadaran finansial adalah kebiasaan yang harus ditanamkan sejak dini. Uang saku yang tidak diatur dengan tujuan yang jelas hanya akan habis tanpa manfaat. Keuangan yang tertata akan membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih tenang, terarah, dan mandiri,” papar Aminudin.
Salah satu poin menarik dalam pelatihan ini adalah pengenalan prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) dalam menetapkan target keuangan. Melalui metode ini, para peserta diajak untuk tidak sekadar “ingin punya uang”, tetapi harus memiliki rencana yang terukur.
“Measurable, yakni Jumlahnya dapat dihitung, Achievable, yakni masuk akal untuk dicapai sesuai kemampuan, Relevant, yakni Sesuai dengan kebutuhan masa depan, Time-bound, yakni memiliki batas waktu pencapaian yang jelas,” jelasnya.

Selain itu, Aminudin mengingatkan para remaja untuk waspada terhadap “jebakan” modern seperti pinjaman daring dan layanan paylater yang dapat merusak skor kredit dan stabilitas finansial mereka di masa depan.
Uniknya, dalam strategi keuangan yang dipaparkan, menunaikan hak harta melalui infak ditempatkan sebagai langkah awal. Hal ini mengajarkan para remaja bahwa keberkahan harta dimulai dari kepedulian sosial, yang kemudian diikuti dengan penyusunan anggaran prioritas antara kebutuhan dan keinginan.
Yessy Septiani Yuono, salah satu peserta, mengaku sangat terbantu dengan materi ini. “Saya jadi paham bagaimana menyusun tujuan keuangan yang realistis. Prinsip SMART ini sangat aplikatif untuk mengatur uang saku sehari-hari agar tidak asal-asalan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Remaja LDII Surabaya berharap para peserta mampu menjadi pionir perubahan di lingkungannya masing-masing. Aminudin menegaskan bahwa tertib finansial merupakan bagian tak terpisahkan dari profil generasi penerus yang unggul.
Dengan bekal pengelolaan keuangan yang disiplin, hemat, dan bertanggung jawab, generasi muda diharapkan tidak hanya mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi global, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
