Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
May 3, 2026
Pesantren

Sejarah dan Profil Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri

  • January 29, 2026
  • 3 min read
  • 378 Views
Sejarah dan Profil Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri

Sejarah dan Profil Pondok Pesantren Wali Barokah

Pondok Pesantren Wali Barokah yang berlokasi di Kelurahan Burengan, Kota Kediri, dikenal sebagai salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia. Lembaga pendidikan Islam ini didirikan pada tahun 1951 oleh KH. Nur Hasan Al Ubaidah bersama Ahmad Ibroham.

Pondok pesantren yang menampung 2500 siswa ini pada masa awalnya dikenal dengan nama Pondok Pesantren Burengan. Seiring bertambahnya usia KH. Nur Hasan, pada tahun 1972 pengelolaan pesantren diserahkan kepada Lembaga Karyawan Dakwah Islam (Lemkari). Sejak saat itu, pengembangan pesantren terus dilakukan secara bertahap.

Memasuki tahun 1980, berbagai sarana dan prasarana mulai dibangun untuk menunjang kegiatan pendidikan, di antaranya gedung perkantoran, asrama santri, serta ruang-ruang kelas. Ketika Lemkari bertransformasi menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada tahun 1991, pengelolaan Pondok Pesantren Wali Barokah secara otomatis berada di bawah pembinaan LDII.

Dalam perkembangannya, pada tahun 2010 LDII mengalihkan pengelolaan pesantren kepada Yayasan Wali Barokah. Penyerahan ini dilakukan dengan harapan agar Pondok Pesantren Wali Barokah semakin optimal dalam menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan yang mencetak insan profesional dan religius.

Bagi masyarakat Kota Kediri, Pondok Pesantren Wali Barokah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga telah menjadi ikon kota. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan menara setinggi sekitar 90 meter yang dilengkapi kubah berlapis emas.

Wali Kota Kediri periode 1999–2009, H. A. Maschut, menamainya sebagai Menara Asmaul Husna. Menara ini dibangun sejak 1 Januari 2000 hingga 23 Januari 2009 dan diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, H. M. Jusuf Kalla.

Selain menjadi simbol Kota Kediri, Menara Asmaul Husna juga difungsikan sebagai perpustakaan yang menyimpan berbagai literatur karya ulama Islam, meliputi hadis, tafsir Al-Qur’an, fikih, serta kajian sejarah Islam.

Di menara tersebut pula terdapat kantor dan ruang kajian Majelis Taujih wa Al-Irsyad, sebuah forum yang beranggotakan para ulama LDII. Majelis ini melakukan kajian mendalam terhadap berbagai kitab rujukan untuk merumuskan solusi atas beragam persoalan umat Islam.

Adapun kurikulum utama Pondok Pesantren Wali Barokah berfokus pada pendalaman Al-Qur’an dan Al-Hadis dengan masa pendidikan sekitar 1,5 hingga dua tahun. Para lulusan dipersiapkan menjadi dai pemula yang kemudian ditugaskan di tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) maupun Pengurus Cabang (PC) LDII di berbagai daerah di Indonesia.

Perkembangan Pondok Pesantren Wali Barokah

Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Wali Barokah terus melakukan inovasi dan penguatan peran pesantren agar relevan dengan tantangan zaman. Selain penguatan kurikulum dan dakwah, pesantren ini juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik lembaga pendidikan, instansi pemerintah, maupun sektor kesehatan, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia santri.

Pondok Pesantren Wali Barokah Kota Kediri meraih Penghargaan Eco Pesantren Tingkat Pratama dalam ajang Jatim Environment Community Award 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur
Pondok Pesantren Wali Barokah Kota Kediri meraih Penghargaan Eco Pesantren Tingkat Pratama dalam ajang Jatim Environment Community Award 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur

Pondok Pesantren Wali Barokah juga menunjukkan komitmennya terhadap isu lingkungan hidup melalui implementasi konsep Eco Pesantren. Komitmen tersebut membuahkan hasil dengan diraihnya Penghargaan Eco Pesantren Tingkat Pratama dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dalam ajang Jatim Environment Community Award. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi aktif pesantren dalam pengelolaan lingkungan, meliputi pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, konservasi energi, serta penanaman nilai kepedulian ekologis kepada para santri.

Program Eco Pesantren di Wali Barokah menjadi wujud dakwah ekologis, di mana nilai-nilai keislaman diintegrasikan dengan kesadaran menjaga kelestarian alam. Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan agama, tetapi juga dalam pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan hidup.

Dengan berbagai capaian tersebut, Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif, berwawasan kebangsaan, peduli lingkungan, dan berorientasi pada pembentukan generasi yang profesional, religius, serta bermanfaat bagi umat dan bangsa.

1 Comment

  • […] Surabaya (31/1). Humas Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, Asyhari Eko Prayitno, sekaligus Sekretaris DPD LDII Kota Kediri menghadiri undangan Musyawarah Provinsi (Musprov) VI Persinas ASAD Jawa Timur di Gedung Serbaguna Sabilurrosyidin, Gayungan, pada Sabtu (31/1). Kegiatan ini menjadi momentum bagi penguatan organisasi dan transformasi digital dalam dunia pencak silat. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *