Kediri (17/8). Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Jawa Timur memberikan apresiasi atas keterbukaan dan sikap toleransi LDII. Hal ini disampaikan dalam kunjungan mereka ke Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah, Kediri, pada Rabu (13/8).
Abdullah, perwakilan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sekaligus anggota Tim Bakorpakem, mengaku terkesan dengan koleksi perpustakaan Ponpes Wali Barokah. Menurutnya, kelengkapan referensi dari empat mazhab besar Islam-Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi’i-menjadi bukti nyata keterbukaan pesantren dalam mengakomodasi perbedaan pandangan.
“Koleksi referensi dari empat mazhab besar Islam ini mencerminkan keterbukaan pesantren dalam menyikapi khilafiyah secara sehat. Perbedaan di kalangan umat Islam adalah hal wajar, yang penting kita menghadapinya dengan semangat persaudaraan,” ungkap Abdullah.
Ia menambahkan, tugas utama Bakorpakem adalah melakukan pengawasan terhadap aliran kepercayaan dan keagamaan demi menjaga ketertiban masyarakat. “Pengawasan ini bukan berarti memata-matai, tetapi langkah preventif dan koordinatif. Jika ada ajaran yang berpotensi membahayakan bangsa dan negara, kami hanya memberikan rekomendasi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdullah juga mengingatkan generasi muda untuk berhati-hati dalam bergaul dan memilih kegiatan keagamaan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ajaran menyimpang serta bijak menggunakan teknologi. “Kalau dulu ada istilah mulutmu harimaumu, kini pikiran dan jarimu bisa jadi harimau yang membahayakanmu. Gunakan ponsel untuk hal-hal positif,” pesannya.
Senada, Ketua Tim Bakorpakem Jatim, Dwi Setyadi, juga berpesan agar para santri tetap berpegang pada ajaran Islam yang lurus, menjauhi paham radikalisme, dan tidak mudah terprovokasi. “Santri adalah generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu menjaga stabilitas NKRI dengan dakwah Islam yang menyejukkan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch Amrodji Konawi, menyambut baik kehadiran Bakorpakem. Ia menilai kunjungan tersebut sebagai bukti keterbukaan LDII dalam menjalankan lembaga pendidikan. “LDII tidak pernah menganggap orang di luar kami otomatis kafir. Selama seseorang mengucapkan syahadat, ia adalah saudara seiman yang wajib dijaga. Sesama muslim ibarat bangunan yang saling menguatkan,” jelas Amrodji.
Ia menegaskan bahwa tuduhan LDII bersifat takfiri (mudah mengkafirkan) tidaklah benar dan bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
Setelah dari Ponpes Wali Barokah Kediri, rombongan Bakorpakem Jatim melanjutkan kunjungan ke Ponpes Gadingmangu, Perak, Jombang. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat silaturahmi, semangat toleransi, dan keterbukaan antar umat beragama. Apresiasi yang diberikan berbagai pihak menunjukkan bahwa dialog dan saling mengenal adalah kunci menjaga persatuan bangsa.
