Jangan Bersikap Acuh terhadap Kemungkaran di Sekitar Kita
Ilustrasi
Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan keras kepada umatnya tentang bahaya ketika Kemungkaran merajalela di tengah masyarakat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Zainab binti Jahsy ra., Nabi SAW datang dalam keadaan cemas seraya bersabda:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذَا
“Tidak ada Tuhan selain Allah. Celaka bagi bangsa Arab dari keburukan yang telah dekat. Pada hari ini telah terbuka dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini.” (Beliau melingkarkan ibu jari dan telunjuknya).
Zainab kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa juga padahal di tengah kita ada orang-orang shalih?”
Rasulullah SAW menjawab:
نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ya, jika kemaksiatan telah merajalela.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberikan pelajaran penting bahwa kerusakan sosial tidak hanya berdampak kepada pelakunya saja, tetapi dapat menyeret seluruh masyarakat apabila kemungkaran dibiarkan tanpa upaya perbaikan.
Kisah Perangkap Tikus
Untuk memahami makna tersebut, ada sebuah kisah sederhana namun penuh hikmah.
Suatu hari seekor tikus melihat petani membawa sebuah bungkusan dari pasar. Tikus itu mengira di dalamnya ada makanan. Namun ketika dibuka, ternyata isinya perangkap tikus.
Tikus itu segera berlari ke halaman dan memperingatkan hewan lain.
“Awas! Ada perangkap tikus di dalam rumah!”
Ayam yang sedang menggaruk tanah hanya menjawab santai,
“Maaf Pak Tikus, itu masalahmu, bukan masalahku.”
Tikus lalu pergi ke kambing dan sapi yang sedang makan rumput.
“Ada perangkap tikus di rumah!”
Kambing berkata dengan simpatik,
“Aku ikut prihatin, tapi aku hanya bisa mendoakanmu.”
Sapi malah menertawakan,
“Perangkap tikus? Jadi aku juga dalam bahaya?”
Akhirnya tikus kembali ke rumah dengan sedih, menghadapi bahaya itu sendirian.
Malam harinya terdengar suara perangkap menutup. Istri petani berlari melihat hasil tangkapan itu. Dalam gelap ia tidak menyadari bahwa yang terjebak sebenarnya seekor ular berbisa. Ular itu mematuk tangannya.
Petani segera membawa istrinya ke rumah sakit. Setelah pulang, ia mengalami demam tinggi. Untuk mengobatinya, petani membuat sup ayam, sehingga ayam pun disembelih.
Namun penyakit itu belum sembuh. Banyak tetangga datang menjenguk, sehingga kambing harus disembelih untuk menjamu tamu.
Sayangnya, racun ular itu terlalu kuat. Istri petani meninggal dunia. Saat pemakaman, banyak orang datang melayat sehingga akhirnya sapi pun disembelih untuk hidangan para tamu.
Padahal awalnya hanya ada satu masalah: perangkap tikus.
Ketika Azab Menimpa Semua
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa ketika azab Allah turun kepada suatu kaum, orang-orang shalih pun bisa terkena dampaknya secara lahiriah, meskipun kelak mereka dibangkitkan sesuai niat mereka.
Dalam hadits dari Aisyah ra., Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَذَابَهُ بِأَهْلِ الْأَرْضِ وَفِيهِمُ الصَّالِحُونَ أَصَابَهُمُ مَعَهُمْ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ
Artinya:
“Apabila Allah menurunkan azab kepada suatu kaum, sedangkan di antara mereka ada orang-orang shalih, maka mereka juga terkena (secara lahiriah), kemudian mereka dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.”
(HR. Ibnu Hibban)
Hadits ini menegaskan bahwa kerusakan sosial yang dibiarkan dapat membawa dampak luas bagi masyarakat.
Jangan Diam Saat Melihat Kemungkaran
Seringkali kita berpikir bahwa penderitaan orang lain tidak ada hubungannya dengan diri kita. Ketika ada kemungkaran, kezaliman, atau kerusakan moral di masyarakat, sebagian orang memilih diam karena merasa tidak terdampak.
Padahal sikap acuh tak acuh justru memperbesar kerusakan.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang suatu kaum yang membiarkan kemungkaran terjadi. Kisah itu disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 163–164:
وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ…
Yang artinya menjelaskan tentang suatu kaum yang melanggar aturan Allah pada hari Sabtu, dan ada sekelompok orang yang tetap menasihati mereka agar kembali kepada kebenaran.
Mereka berkata:
مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Artinya:
“Agar kami mempunyai alasan di hadapan Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”
Penutup
Kisah perangkap tikus mengajarkan bahwa satu masalah kecil yang diabaikan bisa berdampak besar bagi semua pihak. Demikian pula dalam kehidupan masyarakat.
Ketika kemaksiatan, ketidakadilan, dan pelanggaran norma dibiarkan, maka kerusakan itu dapat menimpa siapa saja.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh bersikap egois atau masa bodoh terhadap kondisi di sekitarnya. Kita dituntut untuk saling mengingatkan, menasihati, dan menjaga nilai-nilai kebaikan agar kehidupan masyarakat tetap berada dalam jalan yang diridhai Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang peduli terhadap sesama dan berani menegakkan kebenaran. Aamiin.
