Mengapa Manusia Hakikatnya Selalu Membutuhkan Allah?
Siluet ilustrasi seorang hamba berdoa. Foto: vecteezy
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika seseorang memperkenalkan dirinya sebagai al-faqir, terlebih bila ungkapan itu terus ia bawa dalam percakapan sehari-hari. Seakan hati terbelah: satu sisi bertanya, sisi lain bergetar menahan rasa. Hingga kegelisahan itu menemukan ketenangannya saat merenungi firman Allah SWT berikut ini:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
“Wahai manusia, kalianlah yang sepenuhnya membutuhkan Allah. Dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāṭir: 15)
Ayat ini singkat, namun menghunjam tepat ke akar kesombongan manusia. Tidak hadir sebagai ancaman atau larangan, melainkan sebagai penyingkapan hakikat. Siapa pun manusia itu, setinggi apa pun ilmunya, sebesar apa pun pengaruhnya, secerdas apa pun pemikirannya, pada dasarnya adalah faqir, makhluk yang sepenuhnya bergantung. Tak memiliki daya apa pun tanpa pertolongan-Nya.
Justru dari titik inilah keindahan pemahaman itu muncul. Di hadapan Allah, kefakiran bukanlah aib, melainkan posisi hakiki manusia. Nafas yang terus mengalir tanpa kita kendalikan, detak jantung yang bekerja tanpa perintah kita, hingga pikiran yang silih berganti terang dan gelap, semuanya menjadi saksi bahwa hidup ini berjalan karena karunia, bukan karena kuasa diri.
Sebaliknya, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Ghaniyy, Yang Maha Kaya. Kekayaan-Nya bukan karena memiliki segalanya, melainkan karena tidak membutuhkan apa pun. Dan Dia tetap Maha Terpuji, bukan karena pujian makhluk, tetapi karena seluruh keberadaan bersumber dari kesempurnaan-Nya.
Kefakiran sebagai Kesadaran Batin
Para ulama salaf memandang kefakiran bukan sebatas kondisi ekonomi, melainkan kesadaran batin. Imam Hasan al-Bashri berkata, “Seseorang akan terus berada dalam kebaikan selama ia menyadari kelemahannya dan mengenal bahwa Tuhannya Maha Kuat.” Kesadaran akan keterbatasan inilah yang melahirkan kerendahan hati, doa yang tulus, serta ibadah yang hidup.
Ketika manusia lupa akan kefakirannya, lahirlah ilusi kemandirian. Ia merasa cukup dengan akal, harta, relasi, dan pengaruh. Namun justru di sanalah kekosongan bermula.
Imam Ibn Taymiyyah رحمه الله menegaskan, “Hakikat ibadah adalah puncak ketundukan yang lahir dari puncak kebutuhan kepada Allah.” Artinya, ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan pengakuan eksistensial bahwa tanpa Allah, manusia tidak memiliki apa pun, bahkan dirinya sendiri.
Kekayaan yang Menyesatkan
Imam Al-Ghazali mengingatkan tentang kekayaan semu yang sering menipu manusia: ilmu yang melahirkan kesombongan, amal yang menumbuhkan rasa aman palsu, atau kedudukan yang membuat lupa diri. Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, ia menulis, “Orang yang merasa cukup dengan amalnya, sesungguhnya sedang berada dalam kemiskinan tanpa ia sadari.”
Ayat dalam Surah Fāṭir ini meruntuhkan ilusi tersebut. Bahkan amal saleh pun tidak bernilai tanpa rahmat Allah. Manusia bukan hanya membutuhkan rezeki-Nya, tetapi juga penerimaan dan kasih sayang-Nya.
Faqir dalam Jalan Tasawuf
Dalam tradisi tasawuf, faqir bukan berarti miskin secara lahir, melainkan kosongnya hati dari klaim kepemilikan. Jalaluddin Rumi menggambarkannya dengan indah, “Mengapa engkau gelisah mencari, padahal engkau adalah kekosongan yang sedang diisi oleh-Nya?”
Orang yang sadar akan kefakirannya tidak lagi sibuk menuntut dunia. Ia tetap bekerja, berusaha, dan beramal, namun hatinya tidak bergantung pada hasil, melainkan pada Sang Pemberi.
Dari Kesadaran Menuju Ketenteraman Hidup
Surah Fāṭir ayat 15 mengajarkan bahwa kedewasaan spiritual bukan ditandai oleh perasaan “telah sampai”, melainkan oleh semakin dalamnya kesadaran akan kebutuhan kepada Allah. Semakin dekat seseorang kepada-Nya, semakin ia merasa kecil, namun justru di situlah ketenangan bersemayam.
Ibn ‘Athaillah as-Sakandari berkata, “Kebutuhanmu kepada Allah adalah kemuliaanmu, dan ketergantunganmu kepada selain-Nya adalah kehinaanmu.”
Ayat ini bukan untuk melemahkan manusia, melainkan membebaskannya: membebaskan dari beban untuk selalu kuat, selalu benar, selalu berhasil. Cukuplah manusia menjadi hamba. Dan cukuplah Allah menjadi Tuhan. Di sanalah keseimbangan hidup ditemukan, antara kefakiran yang jujur dan kekayaan Ilahi yang tak pernah bertepi.
Lalu, ke mana lagi kita akan berpaling?
