Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
April 12, 2026
Kesehatan Nasional

Peringati Hari Gizi Nasional, LDII Tekankan Peran Keluarga dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045

  • January 26, 2026
  • 4 min read
  • 43 Views
Peringati Hari Gizi Nasional, LDII Tekankan Peran Keluarga dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Jakarta (25/1). Peringatan Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa pemenuhan gizi bukan hanya soal pilihan makanan, melainkan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Hal tersebut disampaikan Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK), Siti Nurannisaa.

Peringatan Hari Gizi Nasional tahun ini mengusung tema “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045”. Menurutnya, tema tersebut menekankan bahwa kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kebiasaan dan kesadaran gizi yang ditanamkan sejak dini, terutama melalui peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama.

Ia menjelaskan bahwa gizi optimal tidak semata dimaknai sebagai terpenuhinya asupan makanan, tetapi mencakup kemampuan mengambil keputusan sehat secara berkelanjutan, baik dari aspek fisik, emosional, maupun sosial. “Karena itu, peringatan Hari Gizi perlu menjadi momentum untuk mengubah cara pandang, dari sekadar kampanye menu sehat menuju penguatan literasi gizi di lingkungan keluarga,” tegas Nisa, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, Nisa menegaskan bahwa keluarga memegang peran sentral dalam pemenuhan gizi. Orang tua tidak hanya bertugas menyediakan makanan, tetapi juga membangun kebiasaan, suasana, serta memberi teladan mengenai pola makan yang seimbang dan sadar gizi. “Bagi generasi muda, gizi sangat berpengaruh terhadap daya pikir, konsentrasi, ketahanan fisik, serta kesiapan menghadapi tantangan di masa depan,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap kritis keluarga dalam menyikapi derasnya arus informasi dan komersialisasi produk pangan. Menurutnya, keputusan terkait gizi seharusnya lahir dari kesadaran yang tepat, bukan sekadar mengikuti tren. “Gizi yang baik bersumber dari pilihan yang sadar dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Nisa berharap peringatan Hari Gizi Nasional tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi gerakan bersama berbasis keluarga. Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain menjadikan rumah sebagai pusat pendidikan gizi, membiasakan makan bersama dengan penuh kesadaran, serta mengenalkan kembali pangan lokal bergizi.

Selain itu, penguatan literasi gizi dinilai penting agar keluarga tidak mudah terjebak pada klaim “sehat” yang menyesatkan. “Dengan langkah sederhana namun konsisten, Generasi Emas 2045 diharapkan tumbuh tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga tangguh, kritis, serta berakar pada nilai dan budaya bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Martin Ayuningtyas Wulandari, menambahkan bahwa gizi optimal adalah pemenuhan nutrisi sesuai standar gizi dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. “Optimal berarti semaksimal mungkin dapat dipenuhi, disesuaikan dengan kemampuan dan kearifan lokal,” jelasnya.

Ia menilai kurangnya pengetahuan gizi kerap menimbulkan anggapan bahwa makanan bergizi itu mahal dan sulit dijangkau. Padahal, pola konsumsi masyarakat saat ini cenderung mengarah pada makanan instan, siap saji, dan kebiasaan makan terburu-buru yang berdampak kurang baik bagi kesehatan.

Martin menyarankan penerapan gizi seimbang melalui konsumsi pangan alami, lokal, dan diolah secara aman. “Pilih makanan yang tersedia di sekitar kita, diolah dengan cara sederhana, tidak melalui proses yang terlalu lama, dan dikonsumsi secukupnya—tidak berlebihan maupun kekurangan,” ajaknya.

Ia juga menyinggung panduan Isi Piringku yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan sebagai acuan praktis. Panduan tersebut terdiri dari dua model, yakni model pertigaan dan piring T. Model pertigaan membagi piring menjadi sepertiga sumber karbohidrat, sepertiga sayur, serta sepertiga sisanya dibagi antara lauk dan buah.

Sementara pada model piring T, setengah bagian atas diisi buah dan sayur dengan komposisi dua pertiga sayur dan sepertiga buah. Setengah bagian bawah dibagi seimbang antara sumber karbohidrat dan protein. “Panduan ini tidak hanya berlaku untuk sekali makan, tetapi juga dalam pola makan harian. Jika buah belum dikonsumsi saat makan utama, bisa dijadikan selingan,” terangnya.

Untuk mewujudkan pola gizi seimbang, Martin menekankan pentingnya edukasi sejak usia dini terkait apa dan bagaimana cara makan yang baik. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, MPASI dari bahan alami, segar, dan lokal, serta melanjutkan ASI hingga usia dua tahun atau lebih menjadi langkah penting dalam membentuk karakter makan yang sehat. “Kebiasaan ini akan membentuk pola makan yang baik hingga dewasa nanti,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *