Kegiatan santunan anak yatim dan dhuafa, pada Rabu (4/3) di Ponpes Wali Barokah Kota Kediri
Kediri (30/3). LDII Kota Kediri menegaskan komitmennya dalam memperkuat kerukunan bangsa melalui rangkaian kegiatan Ramadan yang inklusif. Mengusung semangat “5 Sukses Ramadan”, LDII tidak hanya fokus pada peningkatan kualitas ibadah individu, tetapi juga menjadikan bulan suci ini sebagai sarana transformasi sosial dan penguatan moderasi beragama di seluruh pelosok Indonesia.
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, memberikan apresiasi atas keberhasilan warga LDII dalam menjaga keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kontribusi nyata di masyarakat.
“Alhamdulillah, kegiatan Ramadan tahun ini berjalan optimal dari tingkat pusat hingga anak cabang. Ini membuktikan warga LDII mampu menjaga harmoni dan kebersamaan melalui aksi nyata,” ujarnya.
Program “5 Sukses Ramadan” (Sukses Puasa, Salat Tarawih, Tadarus Al-Quran, Lailatul Qadar, dan Zakat Fitrah) menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter umat yang disiplin dan berakhlak mulia. Namun, tahun ini penekanan khusus diberikan pada peran generasi muda sebagai garda terdepan dalam pengelolaan kegiatan sosial dan manajerial masjid.
Sejalan dengan visi pusat, Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kediri yang bersinergi dengan LDII, rutin menggelar santunan bagi anak yatim dan dhuafa.
Ketua Ponpes Wali Barokah, H. Sunarto, menegaskan bahwa santunan ini adalah wujud implementasi nilai-nilai Al-Quran. “Kami ingin para santri memahami bahwa kesalehan individu harus dibarengi dengan kesalehan sosial,” ungkapnya.
Ketua DPD LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, menekankan pentingnya sinergi antara ormas keagamaan, pemerintah, dan masyarakat luas. Menurutnya, LDII proaktif melakukan kolaborasi melalui Safari Tarawih (Tarling) bersama jajaran Forkopimda serta pembagian takjil gratis bagi warga umum.
”Kami di tingkat kota terus mendorong warga untuk proaktif berkolaborasi. Moderasi beragama itu hadir dalam bentuk aksi nyata yang inklusif, bukan sekadar wacana. Melalui kegiatan sosial, kita mempererat ukhuwah Islamiyah dan menunjukkan bahwa kehadiran LDII harus membawa manfaat bagi lingkungan tanpa memandang latar belakang,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Ramadan adalah “madrasah” terbaik untuk mengasah empati. “Tujuannya satu: mempererat simpul kebangsaan dan membuktikan bahwa keberagaman adalah kekuatan jika dibalut dengan rasa peduli,” pungkasnya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, LDII berharap nilai-nilai toleransi dan kerja sama yang dipupuk selama Ramadan dapat terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari demi membangun Indonesia yang lebih harmonis dan sejahtera.
