Safari Ramadan di LDII Jakut, Ketua PWNU DKI Sampaikan Islam Sebagai Jalan Tengah
Ketua PWNU Sampaikan Islam Ajarkan Jalan Tengah Saat Safari Ramadan di LDII Jakut. Foto: LINES
Jakarta (3/3) – Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi pemicu perpecahan. Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, mengajarkan prinsip jalan tengah (wasathiyah). Moderasi beragama menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Samsul Ma’arif, saat menghadiri Pengajian Safari Ramadan 1447 H yang digelar DPD LDII Jakarta Utara. Kegiatan itu berlangsung di Masjid Syarif Hidayatullah, Sabtu (28/2/2026), dan diikuti jamaah LDII serta masyarakat sekitar.
Dalam tausiyahnya, KH Samsul mengutip hadis riwayat Imam al-Bukhari yang juga dihimpun Imam Nawawi dalam kitab Riyadus Shalihin mengenai pentingnya bersikap proporsional dalam beribadah. Ia menjelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan maupun meremehkan kewajiban agama. “Dalam beribadah tidak boleh melampaui batas, tetapi juga tidak boleh sekadarnya. Sikap tengah itulah yang disebut moderasi beragama,” ujarnya.
Ia mencontohkan kisah tiga sahabat yang berniat meningkatkan kualitas ibadah dengan cara ekstrem, seperti salat malam tanpa tidur, berpuasa sepanjang tahun tanpa jeda, serta tidak menikah demi fokus ibadah. Rasulullah SAW kemudian meluruskan niat tersebut dengan menegaskan bahwa beliau tetap menjaga keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan manusiawi.
Menurut KH Samsul, prinsip moderasi juga berlaku dalam kehidupan sosial. Pengelolaan harta, misalnya, harus menghindari sikap boros (israf) maupun kikir. Nilai keseimbangan inilah yang menjadi kunci harmoni dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia.
Sementara itu, Ketua DPD LDII Jakarta Utara, Pudya Sandjaya, menyampaikan pentingnya melihat LDII secara objektif dan komprehensif melalui pendekatan ilmiah. Ia menyinggung penelitian Ahmad Ali MD yang menulis buku berjudul Nilai-Nilai Kebajikan dalam Jamaah LDII: Dari Amal Saleh hingga Kemandirian. Riset tersebut mengidentifikasi sebelas karakter positif warga LDII, antara lain kedisiplinan, solidaritas, musyawarah, kebersihan, kepedulian sosial, hingga kemandirian.
“Untuk memahami LDII secara utuh, mari merujuk pada hasil penelitian, bukan sekadar opini atau pemberitaan yang belum tentu lengkap,” tegas Pudya.
Ia juga memaparkan program pembinaan Ramadan LDII yang dikenal dengan “5 Sukses Ramadan”, meliputi sukses puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, meraih Lailatul Qadar, dan menunaikan zakat fitrah. Selain itu, LDII memiliki delapan program pengabdian untuk bangsa yang selaras dengan agenda pemerintah, termasuk penguatan wawasan kebangsaan dan pelestarian lingkungan.
Salah satu implementasinya adalah dakwah lingkungan melalui edukasi pengelolaan sampah dan kerja bakti menyambut Hari Kemerdekaan. “Kami juga menyosialisasikan fatwa MUI tentang larangan membuang sampah sembarangan. Kepedulian lingkungan adalah bagian dari dakwah,” jelasnya.
Pudya menambahkan, sinergi antara LDII dan NU terus diperkuat, termasuk dalam kegiatan rukyatul hilal tingkat provinsi dan penerapan metode pembelajaran sorogan di majelis taklim. Ia menegaskan bahwa LDII bersifat terbuka dan inklusif. “LDII bukan organisasi eksklusif. Masjid kami terbuka untuk siapa saja yang ingin beribadah dan bersilaturahmi,” tutupnya.
Kegiatan Safari Ramadan tersebut menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkuat kolaborasi antara LDII, NU, pemerintah, dan unsur keamanan dalam menjaga kondusivitas wilayah Jakarta Utara.
