Wakil Ketua Nahdlatul Ulama Kota Kediri, Tekankan Keseimbangan Iman dan Kebangsaan
Kediri, (17/12). Dr. Tauhid Al Amin, M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara keteguhan keyakinan beragama dan tanggung jawab kebangsaan. Hal tersebut disampaikan saat seminar Wawasan Kebangsaan dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) LDII Kota Kediri yang digelar pada Rabu (17/12), di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kota Kediri.
Dalam paparannya, Tauhid Al Amin menyampaikan bahwa bangsa Indonesia memiliki dua karakter utama yang harus dijaga secara seimbang, yakni sebagai bangsa yang majemuk sekaligus bangsa yang religius. Menurutnya, perbedaan merupakan keniscayaan dalam kehidupan berbangsa, sementara keyakinan keagamaan tetap harus dijaga dengan kuat.
“Kita ini bangsa yang berbeda-beda, tapi sekaligus bangsa yang religius dan memiliki keyakinan masing-masing. Fanatisme dalam keyakinan itu perlu, selama tidak merusak ruang publik dan persatuan bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sejak awal para pendiri bangsa telah menuntaskan hubungan antara agama dan negara. Indonesia bukan negara sekuler, namun juga bukan negara agama, melainkan negara yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, menjunjung musyawarah, dan keadilan sosial sebagaimana nilai-nilai Pancasila.
Tauhid Al Amin menilai tidak ada pertentangan antara keyakinan keagamaan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, Pancasila justru menjadi jalan untuk mempraktikkan nilai-nilai keislaman secara kontekstual dalam kehidupan kebangsaan.
Dalam konteks moderasi beragama, ia menjelaskan bahwa penguatan keyakinan internal harus berjalan beriringan dengan sikap toleran di ruang publik. Moderasi beragama dipahami sebagai cara menjaga harmoni sosial tanpa mengorbankan akidah.
“Wilayah publik harus dijaga bersama. Jika ruang publik aman, maka kehidupan beragama juga akan terjaga,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahaya ekstremisme, baik yang bersumber dari sikap intoleran, diskriminatif, maupun kekerasan atas nama agama. Menurutnya, intoleransi bermula dari cara pandang, kemudian berkembang menjadi sikap dan tindakan yang berpotensi memecah persatuan.
Lebih lanjut, Tauhid Al Amin menekankan empat indikator moderasi beragama, yakni toleransi, komitmen kebangsaan, sikap anti-kekerasan, serta penghormatan terhadap tradisi. Tradisi, menurutnya, merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu dihormati selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar agama.
“Tidak ada kontradiksi antara nasionalisme dan agama. Justru kecintaan terhadap tanah air merupakan bagian dari iman,” katanya.
