Bahas Bahaya Munafik, Sekretaris LDII Kota Kediri Ajak Santri Jaga Kemurnian Iman
Bahas Bahaya Munafik, Sekretaris LDII Kota Kediri Ajak Santri Jaga Kemurnian Iman
Kediri (27/2). Dalam upaya memperkokoh benteng keimanan, Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, yang juga Ketua Ponpes Nurul Huda Al Manshurin memberikan pengajian tafsir Al-Qur’an yang berfokus pada ancaman dan bahaya sifat munafik di tengah umat Islam. Kegiatan itu berlangsung di Masjid Nurul Huda Al Manshurin, pada Kamis (26/2), diikuti santri Ponpes Nurul Huda Al Manshurin.
Dalam paparannya, Asyhari menjelaskan bahwa ancaman kemunafikan seringkali lebih berbahaya daripada ancaman dari luar, karena sifatnya yang tersembunyi dan merusak dari dalam barisan. Beliau mengulas beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan karakteristik orang munafik, salah satunya adalah ketidaksinkronan antara ucapan di lisan dengan keyakinan di dalam hati.
“Orang munafik adalah ancaman bagi soliditas umat. Mereka berada di tengah-tengah kita, menampakkan keislaman namun hatinya menyimpan keraguan bahkan kebencian. Al-Qur’an memberikan peringatan keras bahwa posisi mereka kelak berada di tingkatan neraka yang paling bawah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asyhari menekankan pentingnya bagi setiap jamaah untuk terus melakukan mawas diri (muhasabah). Ia mengingatkan bahwa ciri-ciri munafik yang disebutkan dalam Hadits—berbohong saat bicara, ingkar saat berjanji, dan khianat saat diberi amanah—harus dijauhi sejauh mungkin.
“Bahaya terbesar dari sifat munafik adalah ia merusak kepercayaan dan ukhuwah dalam jamaah. Jika sifat ini dibiarkan tumbuh, maka kerukunan dan kekompakan organisasi akan rapuh. Oleh karena itu, kejujuran dan ketulusan dalam beribadah serta berorganisasi menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa solusi untuk terhindar dari penyakit hati ini adalah dengan memperdalam pemahaman Al-Qur’an dan Hadis secara murni serta terus berdoa memohon ketetapan iman. Asyhari mengajak jamaah untuk menjadikan masjid dan majelis taklim sebagai sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kejujuran.
“Mari kita bangun lingkungan yang saling terbuka dan jujur. Jangan ada ‘dua wajah’ dalam berjuang di jalan Allah. Kesungguhan kita dalam menetapi agama haruslah lahir dari hati yang bersih, bukan karena motif duniawi atau mencari perhatian manusia semata,” pungkasnya.
Kegiatan rutin ini diharapkan dapat menjadi tameng bagi warga LDII Kota Kediri agar tetap istiqomah dalam menjalankan ajaran Islam yang murni dan terhindar dari sifat-sifat yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
