Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
February 15, 2026
Dakwah Nasihat

Belajar Tentang Rendah Hati dari Samudra

  • January 31, 2026
  • 4 min read
  • 25 Views
Belajar Tentang Rendah Hati dari Samudra

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

Ada satu medan perjuangan yang kerap luput dari kesadaran kita: perjuangan melawan keterkondisian diri. Ia bukan pertarungan dengan sesama manusia, bukan pula pergulatan menghadapi alam, melainkan pergumulan batin melawan batas-batas yang secara perlahan membentuk diri kita sejak lahir.

Lingkungan tempat tumbuh, hiruk-pikuk kota atau sunyi desa, asin angin laut atau dingin pegunungan, pendidikan keluarga, pengaruh pergaulan, hingga bisikan hawa nafsu, semuanya menenun jejaring halus yang sering kali membatasi cara pandang kita terhadap kemungkinan hidup yang lebih luas. Padahal, hanya jiwa yang berani melepaskan jaring-jaring inilah yang mampu menatap masa depan dengan pandangan jernih dan merdeka.

Saya sendiri tumbuh dan menjalani delapan belas tahun pertama kehidupan di kawasan pegunungan. Dunia terasa cukup di sana, nyaris tak terbayangkan betapa luasnya kehidupan di luar. Hingga suatu hari, untuk pertama kalinya saya berdiri terpaku di tepian Pantai Selatan Yogyakarta. Di hadapan samudra yang membentang tanpa batas, saya terdiam. Terpesona. Hanyut. Seakan seluruh kesadaran ditarik masuk ke dalam denyut ombak dan hembusan angin laut.

Di saat itulah sebuah kesadaran muncul dengan terang: seluruh air, dari hujan yang jatuh di punggung gunung, rimba yang lebat, sungai yang berliku di lembah, hingga selokan di kota, akhirnya menuju satu muara: laut. Dan laut menerimanya tanpa pernah penuh, tanpa keluhan, tanpa memilih. Ia menampung segalanya dengan wibawa dan ketenangan, sebab ia rela berada di tempat paling rendah.

Dari sana, seolah ada bisikan halus yang menyingkap tabir pemahaman: kemuliaan sejati justru lahir dari keberanian untuk merendah. Samudra tidak menuntut sanjungan, tidak meminta balasan, dan tidak menolak perannya. Namun, semua aliran air datang kepadanya, seakan telah tahu ke mana harus menuju. Bukankah ini selaras dengan firman Allah dalam QS Al-Furqan: 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, mereka itu adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata hinaan, mereka membalasnya dengan mengucapkan ‘salam’.”

Begitulah kehidupan seakan berbisik: kemuliaan sering kali tumbuh dari keberanian untuk menundukkan diri. Di usia kepala lima, barangkali saya tak memiliki harta melimpah atau jabatan mentereng yang membuat orang menoleh. Bahkan saat sekadar melihat-lihat mobil di showroom, kerap kali tak ada yang menyapa. Banyak yang lebih tinggi posisinya, lebih gemilang pencapaiannya. Dalam urusan akhirat pun, tak terhitung mereka yang lebih tekun dan istiqamah dalam ibadah.

Penampilan sederhana, wajah yang apa adanya, masih melekat. Rasanya belum layak menyandang gelar apa pun yang tampak mulia. Namun, jika ukurannya adalah rasa syukur, saya yakin Allah Maha Mengetahui posisi hamba-Nya. Berdiri tegak dalam penghambaan. Dan saya percaya, ketenangan yang saya rasakan bukan buah kehebatan pribadi, melainkan hasil belajar mengalir bersama kehidupan, tanpa kesombongan, tanpa keangkuhan.

Sebagian orang memandang rendah hati sebagai sikap lemah, seperti keset yang diinjak, diabaikan, dan dianggap tak menarik. Namun anehnya, justru mereka yang memilih jalan kerendahan hati sering melangkah lebih jauh. Seorang sahabat pernah mengirimkan kutipan Rabindranath Tagore yang meneguhkan hati: “Kita bertemu Yang Maha Tinggi, ketika kita rendah hati.” Jalaluddin Rumi pun menulis dalam Masnawi: “Rendahkanlah dirimu seperti lembah yang menampung air, maka rahmat akan mengalir kepadamu.”

Jauh sebelum kata-kata para pujangga itu lahir, Rasulullah ﷺ telah menegaskan kemuliaan sikap tawadhu.

عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ خَطِيبًا، فَقَالَ:
“إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.”
(HR. Muslim)

Demikian pula sabda beliau ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»
(HR. Muslim)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis: “Tundukkanlah hatimu sebagaimana bumi yang diinjak semua makhluk; dari tanah yang rendah itulah tumbuh pohon yang tinggi.” Sementara Lao Tzu berkata: “Laut menjadi raja bagi semua sungai karena ia menempatkan dirinya di bawah mereka.” Maka, adakah gambaran kerendahan yang lebih agung daripada samudra yang justru karena posisinya mampu menampung seluruh aliran kehidupan?

Bagi mereka yang telah mengecap manis dan asin kehidupan melalui jalan tawadhu, tak sulit untuk sepakat bahwa merendah itu indah. Bagi yang belum, mungkin gagasan ini terasa asing, bahkan mengundang penolakan. Namun izinkan saya memberi saran sederhana: sesekali datanglah ke pantai. Bukan semata untuk melepas penat, tetapi untuk membiarkan samudra menenangkan hati.

Dengarkan debur ombak yang setia mengajarkan kesabaran, hembusan angin yang membisikkan kedermawanan, dan cakrawala luas tempat laut dan langit berjumpa. Di sanalah kita diingatkan: ketinggian sejati sering lahir dari kerendahan yang tulus. Seperti samudra yang rendah namun menampung segalanya, demikian pula hati yang merendah, ia akan diangkat derajatnya oleh Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *