Cetak Pemuda Tanggap Darurat, LDII Bontang dan BPBD Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar
Cetak Pemuda Tanggap Darurat, LDII Bontang dan BPBD Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar
Bontang (4/2) DPD LDII Kota Bontang menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang menggelar sosialisasi dan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi para remaja. Kegiatan itu dilatar belakangi situasi darurat yang mengancam nyawa, seperti henti jantung atau henti napas, dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan tempat. Maka perlu menyadari krusialnya tindakan pertama pada menit-menit awal (golden period).
Kegiatan yang adakan di Masjid Baitul Mustofa, Gunung Telihan, Bontang, pada Minggu (18/1) ini bertujuan untuk membekali generasi muda dengan keterampilan teknis penyelamatan jiwa. Pelatihan ini menjadi sangat relevan mengingat tingkat pengetahuan masyarakat umum mengenai prosedur BHD masih tergolong rendah, padahal keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal bagi korban.
Investasi keselamatan sejak dini, Ketua DPD LDII Kota Bontang, Anton Kuswanto, menekankan bahwa kemampuan BHD bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan kompetensi wajib yang harus dimiliki setiap individu untuk menghadapi situasi gawat darurat di lingkungan sekitar.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat memperluas wawasan serta meningkatkan keterampilan remaja LDII dalam memberikan pertolongan pertama. Pengetahuan ini penting ditanamkan sejak dini agar mereka mampu bersikap sigap dan tepat saat menemui kondisi yang mengancam keselamatan jiwa,” ujar Anton.

Sinergi kemanusiaan dan kesigapan bencana inisiatif LDII ini mendapat apresiasi dari jajaran BPBD Kota Bontang. Koordinator Tim Instruktur BPBD, Syamsudin, menilai LDII sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki kepedulian konsisten terhadap isu kebencanaan dan keselamatan publik.
“Kami mengapresiasi LDII yang secara aktif menginisiasi pelatihan ini. Upaya BHD diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan keberanian remaja untuk menolong korban, terutama dalam situasi bencana,” jelas Syamsudin.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dalam kondisi darurat, tanggung jawab penyelamatan nyawa tidak sepenuhnya berada di pundak petugas, melainkan merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Melalui pelatihan ini, para remaja diharapkan bertransformasi menjadi agen kesiapsiagaan yang mampu berperan aktif melakukan upaya penyelamatan jiwa di lingkungan masing-masing.
Dengan materi yang mencakup teknik resusitasi jantung paru (RJP) dan prosedur evakuasi medis dasar, pelatihan ini diharapkan dapat menekan risiko kematian akibat keterlambatan penanganan medis di Kota Bontang.
