Kerugian Terbesar Manusia: Ketika Waktu Berlalu Tanpa Iman dan Amal
Memasuki lembaran awal tahun 2026, sudah selayaknya kita mengawali hari dengan perenungan diri melalui sebuah surat yang singkat namun sarat makna. Surat yang mudah dihafal dan kerap dibaca, tetapi justru sering luput direnungi. Bahkan banyak yang tidak menyadari kedalaman pesan di dalamnya. Surat itu adalah Surah Al-‘Ashr, salah satu surat terpendek dalam Al-Qur’an, namun paling tajam dan tegas dalam menyingkap persoalan mendasar manusia. Hanya terdiri dari tiga ayat, tetapi kandungan hikmahnya begitu dalam. Imam Asy-Syafi‘i sampai berujar, “Seandainya manusia merenungi surah ini saja, niscaya itu sudah mencukupi mereka.”
Mengapa demikian? Karena Allah membuka surah ini dengan sebuah sumpah:
وَالْعَصْرِ
“Demi masa.” (QS. Al-‘Ashr: 1)
Dalam ilmu tafsir, sumpah Allah menandakan perkara yang sangat penting dan serius. Allah tidak bersumpah kecuali atas sesuatu yang agung. Maka waktu bukan sekadar latar perjalanan hidup, melainkan standar penilaian. Dikisahkan, WS Rendra pernah terdiam lama ketika membaca surah pendek ini, hingga hatinya luluh. Dari tertutup, kemudian terbuka menerima cahaya Islam. Ia berkata, “Tidak mungkin susunan kata seperti ini lahir kecuali dari Yang Maha Benar.” Sejak itu, ia tersadar.
Kerugian Menyeluruh: Vonis Tanpa Pengecualian
Allah kemudian menyampaikan pernyataan yang mengguncang:
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 2)
Kata al-insān mencakup seluruh manusia tanpa pengecualian, baik kaya maupun miskin, cerdas atau awam, religius ataupun sekuler. Semua berada dalam kondisi rugi secara bawaan. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak berada pada posisi netral terhadap waktu. Ketika waktu berlalu tanpa diisi iman dan amal, kerugian pasti terjadi. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia merugi karena berlalunya umur, kecuali mereka yang diselamatkan oleh Allah. Kerugian terbesar bukan hilangnya harta atau kedudukan, melainkan waktu yang berlalu tanpa ketaatan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada hari kiamat, seseorang tidak akan bergeser kakinya sebelum ditanya tentang umurnya: untuk apa dihabiskan (HR. At-Tirmidzi). Bahkan, pertanyaan tentang waktu didahulukan sebelum harta.
Empat Jalan Keselamatan dari Kerugian
Allah tidak menutup surah ini tanpa solusi. Ia memberikan empat syarat keselamatan yang sekaligus menjadi prinsip pengelolaan waktu dalam Islam:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا
kecuali orang-orang yang beriman
Iman adalah penentu arah waktu. Tanpa iman, aktivitas manusia hanyalah rutinitas jasmani. Iman menjadikan setiap detik bernilai ibadah. Hasan al-Bashri berkata, “Waktu adalah hidupmu. Jika ia berlalu, maka hidupmu pun ikut berlalu.”
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
dan beramal saleh
Iman tanpa amal hanyalah konsep tanpa pembuktian. Amal saleh adalah isi dari waktu itu sendiri. Para salaf sangat takut pada waktu yang kosong. Ibn Mas‘ud berkata, “Aku paling menyesal pada hari yang berlalu tanpa bertambahnya amalanku.”
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
dan saling menasihati dalam kebenaran
Waktu tidak cukup dijaga secara individual. Ia harus diperjuangkan secara bersama. Saling menasihati dalam kebenaran adalah upaya kolektif agar umat tidak terseret dalam kesesatan massal.
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
dan saling menasihati dalam kesabaran
Kesabaran adalah daya tahan jangka panjang menghadapi perjalanan waktu. Tanpa sabar, manusia mudah tergoda hasil instan dan akhirnya mengorbankan prinsip.
Lebih jauh, Surah Al-‘Ashr menegaskan bahwa iman tidak cukup bersifat personal. Ia menuntut keberanian untuk dibagikan dan diperjuangkan. Iman yang disimpan sendiri cenderung melemah, sementara iman yang disampaikan justru menguat. Namun kebenaran sering terasa berat dan tidak populer. Karena itu, Allah menggandengkannya dengan kesabaran. Tidak semua nasihat diterima, tidak semua kebenaran disukai. Tetapi waktu yang dihabiskan untuk membela kebenaran adalah waktu yang paling bernilai di sisi Allah.
Zaman Modern: Waktu Melimpah, Kesadaran Menipis
Ironisnya, manusia masa kini memiliki teknologi pengukur waktu paling canggih, namun justru paling sering menyia-nyiakannya. Jam pintar, kalender digital, dan pengingat otomatis tersedia di mana-mana, tetapi shalat sering tertunda, taubat diulur, dan amal dikesampingkan. Allah telah mengingatkan, “Apakah manusia mengira bahwa Kami menciptakannya secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Rasulullah ﷺ pun menasihati, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara…” termasuk waktu luang sebelum kesibukan (HR. Al-Hakim). Waktu luang bukan hadiah, melainkan ujian.
Salah satu jebakan terbesar zaman ini adalah ilusi produktivitas. Jadwal padat, notifikasi tak henti, rapat berlapis, namun hati kosong dari kesadaran akan Allah. Inilah amal tanpa ruh. Kerugian sering bukan akibat dosa besar, melainkan kebocoran kecil yang dibiarkan: menunda shalat karena sibuk, menunda taubat karena merasa masih muda, menunda amal karena menunggu siap. Hasan al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari yang berlalu, sebagian dari dirimu ikut pergi.” Yang bocor bukan waktunya, tetapi kesadaran dan kesungguhan kita.
Waktu Itu Pedang
Surah Al-‘Ashr menyampaikan satu kebenaran tegas: waktu tidak pernah netral—ia bisa menyelamatkan atau menghancurkan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak memotongnya, ia akan memotongmu.” Maka siapa pun yang tidak mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, perjuangan kebenaran, dan kesabaran, sesungguhnya sedang melangkah menuju kerugian dengan sadar.
Surah Al-‘Ashr bukan sekadar nasihat, melainkan vonis sekaligus peta keselamatan. Dan setiap detik setelah membacanya menjadi bukti: apakah kita termasuk golongan yang dikecualikan, atau tetap berada dalam barisan orang-orang yang merugi. Surah ini mengajak kita bertanya, bukan “Seberapa sibuk aku hari ini?”, melainkan, “Apakah waktuku hari ini mendekatkanku pada keselamatan atau justru mempercepat kerugian?” Pertanyaan itu harus dijawab setiap hari, karena waktu tidak pernah berhenti menagih tanggung jawab.
(oleh: Faidzunal A. Abdillah, diedit: Yuda)
