Menjaga Pelita Iman di Tengah Arus Zaman
Oleh : Daud Soleh, S.Pd. (Sekretaris Ponpes Wali Barokah Kediri)
Saudara-saudaraku sekalian, kita saat ini telah melangkah di tahun 2026. Mata kita menjadi saksi bagaimana dunia berlari begitu cepat dengan lompatan teknologi yang seolah tak ada batasnya. Namun, di balik gemerlap kemajuan ini, kita harus selalu terjaga dengan peringatan Rasulullah ﷺ tentang hakikat perjalanan waktu.
“Tidak datang suatu zaman kecuali zaman yang berikutnya lebih buruk dari zaman sebelumnya, sampai kalian menjumpai Tuhan kalian.” (HR. Bukhari).
Secara materi kita mungkin melesat, namun secara spiritual, tantangan terhadap keimanan semakin mendaki. Maka, janganlah kita terlena. Kita butuh benteng kokoh berupa iman dan kefahaman agama yang murni. Berikut adalah empat ikhtiar untuk menjaga jati diri kita:
1. Membudayakan Hobi Mengaji
Mengaji adalah jalan utama untuk memperoleh kefahaman. Tanpa ilmu, iman seseorang akan mudah rapuh diterjang syubhat (keraguan). Allah SWT memerintahkan kita untuk memiliki pemahaman yang kuat sebelum berucap dan bertindak, sebagaimana firman-Nya:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ… “Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) selain Allah…” (QS. Muhammad: 19).
Ayat ini menegaskan bahwa “berilmu” (mengaji) adalah syarat sebelum meyakini tauhid. Dengan rutin mengaji, kita menjalankan kewajiban yang digariskan Rasulullah ﷺ: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
2. Menjadikan Nasihat Agama sebagai Kebutuhan
Nasihat adalah ruh bagi kehidupan seorang mukmin. Jangan memandang siapa yang berbicara, namun lihatlah kebenaran yang disampaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim).
Nasihat merupakan bentuk kasih sayang Allah melalui lisan hamba-Nya. Saat hati mulai keras atau dunia mulai melalaikan kita, nasihatlah yang akan melembutkannya kembali. Menolak nasihat hanya karena ego adalah ciri kesombongan yang membahayakan iman.
3. Selektif dalam Pergaulan (Luring maupun Daring)
Lingkungan, termasuk media sosial di era digital 2026 ini, memiliki daya bentuk yang luar biasa. Rasulullah ﷺ mengingatkan betapa besarnya pengaruh teman dalam sabdanya:
“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud).
Pilihlah akun yang kita ikuti dan komunitas tempat kita bernaung. Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ… “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…” (QS. Al-Kahfi: 28).
4. Ridho dalam Menetapi Aturan
Kedewasaan iman tecermin dari keridhoan kita menjalankan aturan yang telah disepakati demi kemaslahatan bersama. Ketaatan kepada aturan (selama tidak bermaksiat kepada Allah) adalah perintah agama:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59).
Sikap ridho dan lapang dada dalam mengikuti garis kepemimpinan organisasi maupun masyarakat akan mendatangkan ketenangan hati dan keberkahan dalam berjamaah.
Saudara-saudaraku, kemajuan teknologi tahun 2026 tidak akan mampu menggoyahkan kita jika iman dan kefahaman sudah menghujam dalam jiwa. Mari jadikan keempat ikhtiar ini sebagai gaya hidup, agar kita tetap teguh berdiri di atas kebenaran hingga akhir hayat.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita manfaat, kelancaran, serta keberkahan atas setiap ikhtiar kita.
