Beberapa Kesalahan Umum Parenting Yang Membuat Anak Tidak Percaya Diri
Oleh Asyhari Eko Prayitno*
Semua orang tua pasti menginginkan anaknya sebagai pribadi yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Karena, rasa percaya diri dapat membantu mereka lebih untuk berani dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak gentar terhadap tantangan era saat ini.
Walau begitu, ada banyak orang tua yang tidak sadar bahwa pola asuh mereka mungkin telah merusak kepercayaan diri anak tersebut. Berikut adalah beberapa kesalahan pola asuh yang paling umum yang menghancurkan kepercayaan diri anak :
Membiarkan Anak Untuk Lepas Dari Tanggung Jawab
Sebagian orang tua mungkin merasa kasihan jika memberikan tugas rumah pada anak karena menganggap mereka belum dewasa. Padahal, melakukan tugas kecil di rumah sesuai umur anak dapat melatih mereka untuk belajar bertanggung jawab.
Selain hal itu, saat mereka mengerjakan tugas rumah, anak-anak akan melihat dan mengevaluasi diri sendiri apakah dirinya telah kompeten atau belum.
Mencegah Mereka Untuk Melakukan Kesalahan
Begitu banyak orang tua siap siaga dalam menyelamatkan anak-anak sebelum mereka jatuh. Namun faktanya, mencegah anak untuk berbuat salah ternyata dapat merampas kesempatan mereka untuk belajar bagaimana cara untuk bangkit kembali.
Sebaiknya bagi para orang tua berikanlah ruang dan kesempatan bagi anak untuk berlatih membangun kekuatan mental yang akan mereka butuhkan di masa depan.
Melarang Anak Untuk Merasakan Emosi
Sering dijumpai, bahwa banyak orang tua yang responsif dalam menghibur anak ketika mereka sedih atau berusaha menenangkan mereka ketika marah atau kondisi tantrum. Padahal, upaya tersebut justru bisa menghalangi anak untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya.
Bantulah anak dalam mengidentifikasi mengenai hal apa yang memicu emosi, lalu bimbinglah mereka cara mengendalikan emosi tersebut. Berikanlah anak tersebut pemahaman yang akan membantu menjelaskan perasaan mereka sehingga anak akan lebih mudah menangani emosi mereka tersebut dengan cara yang sesuai di masa yang akan datang.
Selalu Mengajarkan Mentalitas Korban
Sebaiknya Jangan pernah mengatakan hal-hal seperti “papa mama tidak mampu membelikan kaos metal baru seperti anak-anak lain karena papa mama miskin”. Hal seperti itulah yang sering dikatakan orang tua tanpa mereka sadari bahwa hal tersebut memberikan kesan kepada anak bahwa orang tua merupakan korban dari keadaan.
Daripada mengajarkan anak yang menuju pada mental korban, akan lebih baik jika mendorong mereka untuk mengambil tindakan positif yang bisa membantu mereka sehingga dapat merasa lebih percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.
Menerapkan Perlakuan Over Protektif
Orang tua dapat diibaratkan sebagai pemandu, bukan pelindung yang over. Biarkanlah anak-anak mengalami kesulitan dalam hidup, bahkan ketika hal itu menakutkan. Beri mereka kesempatan untuk menghadapi masalahnya sendiri, sehingga mereka bisa tumbuh lebih percaya diri di kehidupannya, daripada harus terus dijaga yang akhirnya tidak bisa lepas dari orang tuanya, yang berakibat tidak bisa mandiri. Hal itu menyebabkan anak kurang percaya diri dengan keadaannya tanpa kehadiran orang tua. Padahal orang tua tidak selamanya berada disisi anak-anaknya, sehingga kemandirian perlu diajarkan. Boleh melindungi dan mendampingi, tetapi jangan terlalu berlebihan.
Terlalu Menuntut Kesempurnaan
Mempunyai harapan merupakan hak yang mutlak bagi setiap orang, tetapi berharap terlalu banyak tentu saja ada konsekuensinya. Ketika anak-anak memahami dan memandang harapan yang terlalu tinggi, mereka mungkin akan malas mencoba atau mereka mungkin merasa seolah-olah hal itu merupakan hal yang mustahil untuk dapat diraih. Sehingga orang tua diharapkan tidak hanya berharap, tetapi juga membantu anak untuk mencapai harapan tersebut dan apabila qodarnya belum tercapai, orang tua tidak boleh terlalu menuntut yang berlebihan dan berharap mereka menjadi sempurna, itu justru akan membuat mereka tertekan dan mengalami stress.
Selalu Menghukum, Bukan Mendisiplinkan
Seorang anak sangat perlu belajar bahwa beberapa tindakan tertentu pasti memiliki dampak yang serius. Tetapi sebagai orang tua seharusnya dapat memahami bahwasannya ada perbedaan besar antara disiplin dan hukuman.
Dengan artian lain, disiplin berarti memberi anak kepercayaan diri bahwa mereka dapat membuat pilihan yang lebih cerdas dan lebih sehat di masa depan, sementara hukuman membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak mampu melakukan yang lebih baik dan menjadi pribadi yang gagal.
Pada intinya, setiap orang tua mendambakan anak yang berani, tangguh, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Sayangnya, keinginan baik ini seringkali terhambat oleh pola asuh yang tanpa disadari justru menghancurkan potensi diri anak. Pola-pola seperti over-protektif, mencegah anak melakukan kesalahan, hingga selalu menuntut kesempurnaan, merampas kesempatan anak untuk mengembangkan kompetensi, ketahanan mental, dan kemandirian.
Kesalahan parenting umum seperti membebaskan anak dari tanggung jawab, melarang mereka merasakan emosi, atau menerapkan mentalitas korban, secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa anak tidak mampu mengelola diri atau lingkungannya tanpa intervensi orang tua. Yang paling penting, penting untuk membedakan antara disiplin (mengajarkan pilihan yang lebih baik) dan hukuman (membuat anak merasa gagal).
Penutup dan Ajakan Bertindak
Membangun kepercayaan diri anak bukanlah tentang melindungi mereka dari segala kesulitan, melainkan tentang memberdayakan mereka untuk menghadapi kesulitan tersebut. Peran orang tua adalah sebagai pemandu, bukan pelindung yang berlebihan.
Untuk menghasilkan generasi yang percaya diri, tangguh, dan mandiri, sudah saatnya kita sebagai orang tua mengevaluasi kembali pola asuh yang diterapkan. Berikanlah anak Anda ruang untuk:
• Bertanggung Jawab atas tugas sesuai usia.
• Melakukan Kesalahan sebagai proses pembelajaran.
• Mengidentifikasi dan Mengendalikan emosi mereka.
• Menghadapi Masalah dengan bimbingan, bukan intervensi total.
Dengan beralih dari pola asuh yang serba mengamankan menjadi pola asuh yang memberdayakan, kita menanamkan benih kepercayaan diri sejati yang akan menjadi modal terpenting mereka dalam menaklukkan tantangan masa depan.
*Asyhari Eko Prayitno, S.Psi, S.Pd, S.M, M.M, M.Pd. adalah Ketua Pemuda LDII Kota Kediri yang juga Ketua Ponpes Nurul Huda Al Manshurin
