Official YoutubeLDII TV Kota KediriSubscribe
January 20, 2026
Lingkungan

LDII Hadirkan Alternatif dalam Menekan Sampah Akhir Tahun

  • January 8, 2026
  • 4 min read
  • 19 Views
LDII Hadirkan Alternatif dalam Menekan Sampah Akhir Tahun

Pergantian tahun sejatinya merupakan ruang refleksi, saat manusia diajak berhenti sejenak untuk menilai perjalanan hidup yang telah dilalui sekaligus menata langkah ke depan. Dalam sudut pandang keimanan, perubahan waktu bukan sekadar pergantian angka kalender, melainkan pengingat bahwa usia terus berkurang dan amanah manusia sebagai penjaga bumi tetap berjalan.

Namun realitas kehidupan modern menunjukkan makna tersebut kerap bergeser. Malam pergantian tahun lebih sering diidentikkan dengan euforia dan hiburan. Tanpa disadari, cara merayakan waktu justru melahirkan persoalan baru, salah satunya peningkatan volume sampah yang berdampak langsung pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Pergantian Tahun dan Problematika Sampah

Di berbagai daerah, malam tahun baru dirayakan dengan pesta kembang api, konsumsi makanan berlebihan, dan keramaian di ruang publik. Di balik kemeriahan tersebut, lonjakan sampah hampir selalu menjadi konsekuensi. Sampah plastik sekali pakai, botol minuman, sisa makanan, hingga atribut pesta menjadi pemandangan yang berulang setiap awal tahun.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara konsisten mencatat bahwa momen hari besar, libur panjang, dan perayaan massal menjadi penyumbang signifikan peningkatan timbulan sampah, khususnya di kawasan perkotaan dan destinasi wisata. KLHK menegaskan bahwa pengendalian sampah paling efektif harus dimulai dari hulu, yakni perubahan pola konsumsi dan perilaku masyarakat dalam membatasi penggunaan produk sekali pakai.

Fakta Lapangan: Lonjakan Sampah Malam Tahun Baru

Lonjakan sampah saat pergantian tahun bukan sekadar asumsi. Di Jakarta, misalnya, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta mencatat timbulan sampah pada malam tahun baru 2025 mencapai sekitar 132 ton dan berpotensi meningkat seiring bertambahnya titik keramaian.

Secara nasional, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa timbulan sampah Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun, dengan sekitar 66 persen di antaranya belum terkelola secara optimal. Kondisi ini memperberat beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang sebagian besar masih menerapkan sistem open dumping. Fakta tersebut menegaskan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan dan teknologi semata, tetapi membutuhkan perubahan perilaku kolektif.

Pilihan Sadar LDII Menyambut Tahun Baru

Di tengah budaya perayaan yang cenderung konsumtif, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) memilih pendekatan berbeda. Melalui kegiatan pengajian akhir tahun, LDII menghadirkan alternatif aktivitas yang lebih tertib, bermakna, dan ramah lingkungan.

Pengajian akhir tahun tidak sekadar diposisikan sebagai rutinitas keagamaan, tetapi menjadi sarana muhasabah, evaluasi diri, penguatan nilai ibadah dan akhlak, sekaligus kontribusi nyata dalam mengurangi timbulan sampah. Tanpa pesta berlebihan, tanpa trompet plastik, petasan, maupun konsumsi berlebih, kegiatan ini menunjukkan bahwa pergantian tahun dapat dimaknai tanpa pemborosan.

Pengajian Akhir Tahun dan Pencegahan Sampah dari Hulu

Jika dicermati, pengajian akhir tahun yang dilaksanakan LDII secara langsung menerapkan prinsip reduce dalam konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Hal ini tercermin dari tidak digunakannya atribut pesta sekali pakai, konsumsi yang sederhana dan terkontrol, serta kedisiplinan warga dalam menjaga kebersihan lingkungan kegiatan.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa LDII tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan perilaku atau dakwah bil hal. Sampah tidak ditangani setelah menumpuk, melainkan dicegah sejak awal. Model berbasis nilai dan komunitas semacam ini dinilai lebih efektif dalam membangun kesadaran jangka panjang dibandingkan pendekatan yang semata-mata mengandalkan sanksi.

Nilai Keagamaan sebagai Dasar Kepedulian Lingkungan

Prinsip menjaga lingkungan sejatinya sejalan dengan ajaran agama. Kerusakan alam tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan teknologi, melainkan oleh cara pandang manusia terhadap alam. Ketika kesenangan sesaat ditempatkan di atas tanggung jawab, sampah menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Sebaliknya, ketika perayaan dimaknai sebagai refleksi dan pengendalian diri, dampak lingkungan dapat ditekan.

Konsep manusia sebagai khalifah di bumi menegaskan bahwa merusak lingkungan berarti mengingkari amanah. Melalui pengajian akhir tahun, LDII secara konsisten menanamkan nilai kesederhanaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab ekologis kepada warganya.

Kontribusi LDII bagi Agenda Lingkungan Nasional

Langkah yang dilakukan LDII sejalan dengan agenda nasional pengurangan sampah dari sumbernya. Dengan basis massa yang luas dan struktur organisasi yang menjangkau hingga tingkat bawah, LDII memiliki potensi strategis sebagai mitra pemerintah dalam edukasi dan pengendalian sampah berbasis komunitas.

Dalam konteks ini, peran Departemen Litbang, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) LDII menjadi krusial sebagai penggerak kesadaran agar nilai-nilai keimanan tercermin dalam perilaku ramah lingkungan melalui edukasi, pembiasaan, dan keteladanan dalam aktivitas sehari-hari.

Di tengah krisis sampah yang semakin nyata, Indonesia membutuhkan lebih banyak teladan, bukan sekadar imbauan. LDII menunjukkan bahwa perubahan perilaku itu mungkin dan dapat dimulai dari komunitas sendiri. Pengajian akhir tahun bukan hanya memperkuat iman dan akhlak, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan. Masa depan yang bersih tidak lahir dari perayaan yang meriah, melainkan dari pilihan hidup yang sadar, disiplin, dan bertanggung jawab.

*)Bambang Supriadi (DPW LDII Nusa Tenggara Barat), diedit oleh Yuda (LINES Kota Kediri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *